Berebut Pasar Wisatawan Timur Tengah

lombok menang dlm halal tourism

Lombok sumbang dua gelar untuk Indonesia dalam World Halal Travel Awards 2015 (Ist)

Wisatawan asal kawasan Timur Tengah (Timteng) rupanya diincar banyak negara, termasuk Indonesia lantaran mereka dikenal suka membelanjakan uang di destinasi wisata.

Namun, tak hanya negeri ini sebab negeri jiran, Malaysia dan Thailand pun diketahui tengah gencar merayu wisatawan asal Timteng. Indonesia dinilai punya peluang besar mendatangkan wisatawan asal Timteng karena Bali digemari mereka.

Namun, kini tak hanya Pulau Dewata saja karena Lombok di Nusa Tenggara Barat juga berpotensi besar lantaran belum lama ini menyabet dua penghargaan sekaligus berskala internasional dalam World Halal Travel Awards 2015, yakni World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination.

“Pasar Timur Tengah, terutama Uni Emirat Arab, itu spending-nya paling besar, sekitar US$1.700 per kepala. Disusul Arab Saudi sekitar US$1.500. Rata-rata hanya US$1.200. Jadi kalau menggunakan analisa SSS atau triple S, yakni size (ukuran), spread (laba atau margin keuntungan), dan sustainable (keberlangsungan), maka pasar halal travel itu sangat menjanjikan,” ucap Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika dihubungi patainanews.com beberapa waktu lalu.

Sementara Nia Niscaya, Asisten Deputi Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika Kementerian Pariwisata menjawab patainanews.com di Hotel Santika Cirebon, Jawa Barat baru-baru ini menjelaskan, “Kini kami sedang gencar berpromosi di beberapa media Timur Tengah, namun karena cara beriklan di sana beda dengan tempat lain, maka meski materi iklannya sama, tapi konten yang kita berikan ke kawasan itu berbeda”.

Hal itu harus dilakukan karena berpromosi di Timur Tengah agak ketat aturannya, seperti iklan tidak boleh terlihat orang, jadi misalnya mau promosi tentang Bali, tidak bisa menampilkan wanita penari Bali.

Kemudian agar promosi yang dilakukan efektif, pihak Kementerian Pariwisata menyasar media-media yang banyak ditonton wanita dan anak-anak. Pasalnya, saat akan jalan-jalan ke luar negeri, biasanya seorang ayah akan mengikuti permintaan istri atau anaknya.

“Kita optimistis mereka akan senang ke Indonesia karena wisatawan Timur Tengah suka pemandangan alam yang serba hijau karena di negaranya, yang dominan hanya gedung beton dan padang pasir,” papar Nia dalam acara Sosialisasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara kepada Media Nasional yang dilakukan pada 23 – 25 Oktober 2015 di Cirebon.

Untuk menarik kedatangan wisatawan Timur Tengah, Nia mengutarakan bahwa pihaknya akan menjagokan Lombok lantaran belum lama ini Pulau Seribu Masjid ini menang di ajang World Halal Travel Awards 2015.

Ditetapkannya Lombok sebagai destinasi halal terbaik dunia telah mengubah peta pasar pariwisata di Asia. Diyakini kini wisatawan mancanegara akan lebih datang ke Indonesia, khususnya ke Lombok ketimbang ke negeri jiran, Malaysia.

Demikian disampaikan Wakil Ketua PHRI NTB LA Hadi Faishal kepada patainanews.com di Jakarta belum lama ini. “Akan menjadi ajang promosi besar bagi wisatawan asal kawasan Asia, khususnya dari Timur Tengah yang selama ini memilih berlibur ke Malaysia,” ucapnya.

Menurut Hadi, begitu ia biasa disapa, kini, Lombok sudah dilirik oleh tour travel yang mengelola muslim traveler di negara muslim maupun nonmuslim.

Adapun pertumbuhan wisatawan Muslim yang signifikan membuat banyak negara mulai mengincar pasar yang menjanjikan ini. Negara-negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan wilayah Asia Tenggara diketahui menjadi penyumbang wisatawan Muslim yang tebilang cukup banyak.

Pew Research Center Forum on Religion and Public Life mengungkapkan, populasi Muslim dunia diperkirakan terus bertambah dari 1,6 miliar atau sekitar 23,4 persen dari penduduk dunia pada 2010 silam menjadi sekitar 2,2 miliar atau sekitar 26,4 persen dari total penduduk dunia pada 2030 mendatang dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,5 persen setiap tahunnya.

Pada awal tahun ini, lembaga Crescent Rating menerbitkan Global Muslim Travel Index yang isinya menunjukkan bahwa pada tahun lalu, segmen wisata Muslim memiliki nilai sebesar US$145 miliar dengan jumlah 108 juta wisatawan Muslim, mewakili 10 persen dari keseluruhan sektor travel.

Angka ini diprediksi akan tumbuh menjadi 150 juta pada 2020 mendatang atau sebesar 11 persen dari segmen pasar tersebut dengan nilai pasar yang diproyeksikan akan tumbuh menjadi US$200 miliar.

Tak heran jika banyak negara mulai mengincar wisatawan Muslim lantaran biaya belanja wisatawan Muslim juga cukup besar. MasterCard-CrescentRating Muslim Shopping Travel Index 2015 (MTSI 2015) mengungkapkan bahwa total pengeluaran wisatawan Muslim secara global pada tahun lalu adalah sebesar US$62miliar, dengan rincian US$36 untuk belanja dan US$26 untuk makan.

Saat ini, kota-kota di wilayah Asia Pasifik telah termasuk sebagai pilihan destinasi belanja pertama bagi para turis Muslim. Kuala Lumpur menempati posisi kedua dari daftar 40 kota secara keseluruhan di dalam laporan MTSI 2015, disusul oleh Singapura di posisi ketiga.

Kedua kota tersebut menyusul posisi Dubai yang menempati posisi pertama. Dubai menduduki peringkat teratas dari Muslim Travel Shopping secara keseluruhan, yakni dengan 79,5 poin, diikuti oleh Kuala Lumpur dengan 73,3 poin, lalu Singapura dengan 71,6 poin.

Bali juga masuk dalam peringkat 10 teratas dengan nilai 58,2 poin, diikuti Penang dengan 56,9 poin. Secara total, Asia Pasifik memberikan kontribusi sebanyak 14 kota ke dalam daftar 40 kota dengan peringkat tertinggi dalam indeks tersebut.

“MasterCard-CrescentRating Muslim Travel Shopping Index merupakan sebuah pandangan atau temuan yang menarik mengenai perilaku berbelanja yang dilakukan oleh konsumen muslim. Penelitian ini diyakini akan menjadi pedoman yang sangat berharga untuk berbagai sektor,” kata Fazal Bahardeen, CEO CrescentRating & HalalTrip.

“Penelitian ini menelaah dua komponen pengeluaran terpenting dari para wisatawan muslim, yakni berbelanja dan makan. Indeks dalam penelitian ini mengungkapkan betapa pentingnya kawasan Asia Pasifik terhadap sektor tersebut serta kontribusi penting yang mereka berikan,” lanjutnya. (Gabriel Bobby)

 

About author



You might also like

SightSeeing

Putri Pariwisata Indonesia 2016 Siap Promosikan Wonderful Indonesia

Putri Pariwisata 2016 (Ist) Nama Sulawesi Utara kembali berkibar di kontes putri kecantikan. Setelah mengorbitkan Cynthia Sandra Tidajoh menjadi Putri Pariwisata Indonesia 2010 serta Putri Indonesia 2016 Kezia Warouw, ada

Travel Operator

PATA Travel Mart 2016 di ICE Majukan Pariwisata Banten

Nawang Wulan (Ist) Penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 pada September mendatang di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Banten diyakini akan memberikan dampak yang amat positif terhadap kemajuan pariwisata Banten. “Tentu

Festival

HPN 2016 Momen Sosialisasi Halal Tourism di Indonesia

LA Hadi Faishal (Ist) Penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai menjadi momen yang tepat untuk melakukan sosialisasi mengenai penerapan halal tourism di berbagai

Destinations

Agustus, Lomba Foto Bawah Laut di Lembata

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merencanakan akan menggelar lomba foto bawah laut internasional pada bulan ini. Adapun kegiatan itu akan dilakukan di Lembata nanti tanggal 22 hingga 25 Agustus.

Destinations

‘Flavors of Indonesia, William Wongso’s Culinary Wonders’

Sate, kuliner khas Indonesia (Ist) Makanan dan seni kuliner adalah inti kehidupan dan peradaban. Makanan adalah salah satu alat diplomasi tertua di dunia sekaligus sesuatu yang merekatkan manusia dan dunia

Cuisine

Pesona Nusantara Dukung Promosi Budaya Indonesia

Anggi (kedua dari kanan) bersama tim di Tiongkok menari tari Balian Dadas dari Kalimantan (Ist) Potensi pariwisata Indonesia harus diakui memang beragam. Bahkan, potensi negeri ini tak hanya pariwisata karena