Branding Pengaruhi Kunjungan Wisman

wonderful Indonesia

Branding Indonesia ‘Wonderful Indonesia’ (Ist)

Kunjungan wisatawan mancanegara sepertinya tak bisa lepas dari pengaruh branding yang kuat. Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai ‘Wonderful Indonesia’ kini semakin populer dalam benak wisatawan mancanegara (wisman).

Tak salah memang seorang Arief Yahya optimistis lantaran promosi potensi pariwisata negeri ini, ‘Wonderful Indonesia’ tampaknya semakin menguat hingga ke mancanegara lantaran gencar dilakukan di ranah internasional.

Dari sekitar 141 negara, branding ‘Wonderful Indonesia’ pun berhasil menempati ranking 50 besar. Adapun Indonesia semakin serius melakukan promosi pariwisata hingga ke mancanegara. Berbagai upaya promosi yang serius dilakukan mulai membuahkan hasil.

Branding ‘Wonderful Indonesia’ pun berhasil naik ke posisi 47 dalam branding terbaik dunia versi Travel and Tourism Competitiveness Index World Economic Forum.

“2013 belum available atau belum dikenal. 2015 kita melompat 100 peringkat jadi 47,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sambutannya di acara Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) 2015 di Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Ia mengatakan bahwa hal ini sangat bagus karena Indonesia semakin dikenal di dunia dan bisa mengalahkan peringkat branding milik negeri jiran yang menjadi pesaing, seperti Malaysia Truly Asia dan Amazing Thailand.

“Yang bagus mengalahkan Thailand rangking 83 dan Malaysia ranking 96,” katanya. Peran media massa juga dianggap sangat penting dalam menyebarluaskan ‘Wonderful Indonesia’.

Country branding Tanah Air yang semakin terkenal ini pun diyakini dapat memberikan pengaruh besar dalam pengembangan pariwisata Indonesia.

“Branding Indonesia adalah Wonderful Indonesia dan itu country branding Indonesia, dimana ada value-nya. Country branding pengaruhnya lebih besar dari marketing branding di bidang pariwisata,” ucapya.

Sementara EdySR, brandpreneur di EDYSR.COM dalam media sosial, facebook menulis, destination branding ibarat matahari. Ketika pagi, ia terbit di ufuk Banyuwangi, ‘Sunrise of Java’.

Lalu bergulir ke Solo, memancarkan ‘The Spirit of Java’. Dan saat sampai di Yogyakarta berbinar memikat dunia, ‘Never Ending Asia’. Jadi, lanjutnya, jangan kaget jika wisatawan ke Yogyakarta tak ada habisnya.

Menurutnya, demam destination branding sedang melanda Indonesia. Mendadak, banyak pemerintah daerah yang sibuk mendesain logo dan merancang kata untuk tagline-nya.

Masing-masing daerah berusaha mendefinisikan diri. Ada yang didasari kesadaran branding, ada pula yang latah. Ada yang dituangkan dalam rencana strategis jangka panjang, ada pula yang instan.

“Tapi sayangnya, hampir sebagian besar destination branding yang digagas, terjebak dalam konteks pariwisata. Sehingga seolah-olah destination branding itu serupa dengan undangan tamasya,” ucapnya.

Padahal idealnya, strategi destination branding harus dimulai dari negara, berupa nationbranding yang terencana. Korea Selatan, bisa sebagai salah satu contoh apiknya.

‘Korea beInspired!’ tidak lahir dari obrolan bareng pakar selama dua jam, lalu disayembarakan sebulan, dan di-launching selang enam bulan kemudian.

Tapi merupakan rangkaian nation branding yang strategis selama hampir 30 tahun. Asian Games 1986 merupakan salah satu pijakan strategis nation branding Korea Selatan di kawasan Asia.

Ditengah kepungan Tiongkok dengan sumber daya manusianya yang melimpah, Jepang dengan keunggulan kompetitif teknologinya, dan negara-negara Arab dengan gurun minyaknya, Korea Selatan mengkomunikasikanbrand value-nya melalui gelaran olahraga yang memikat Asia.

Selang dua tahun, pada 1988 silam, Korea Selatan sekali lagi berhasil menggoda dunia dengan nation branding-nya di Olimpiade Seoul. Ingat, olimpiade ini bukan untuk city branding Seoul, tapi untuk nation branding Korea Selatan.

Dan puncaknya tentu saja, ketika Korea Selatan bersama Jepang menghelat PialaDunia 2002. Untuk pertama kalinya, kompetisi sepakbola sejagat ditandingkan di dua negara.

Pesan nation branding-nya jelas bahwa Korea Selatan ‘dapat dipercaya dunia’. “Selebihnya, kini kita bisa melihat bagaimana ‘brand ambassador’ Korea Selatan bekerja, Seoul, Busan, Samsung, Hyundai, dan tentu saja K-Pop dengan rambut jagungnya!,” urainya.

Kota yang Bahagia

Kota sejatinya merupakan komunitas yang tertata. Baik secara fisik, psikis, maupun interaksi sosialnya. Kota menjadi tempat lahir, tumbuh, dan berkembangnya peradaban. Di sinilah nilai-nilai disemai dalam sejarah yang panjang.

Karenanya city branding tidak bisa instan. Brand value yang dipaparkan harus lahir dari nilai yang mengakar pada masyarakat. Sehingga strategi branding tersebut nantinya akan mengalir selaras dengan kehidupan masyarakatnya.

Menurutnya, masyarakat harus dilibatkan, dan bahagia terlibat didalamnya sehingga sejak awal masyarakat ikut memetakan skala prioritas potensi kotanya.

Potensi paling strategislah yang akan menjadi pembuka jalan bagi tahapan city branding selanjutnya. Selama ini kesadaran city branding secara organik seperti ini belum tumbuh. Pemerintah sendirian merancang segalanya.

Dan masyarakat kaget dengan perkembangan kotanya yang serba tiba-tiba. Akibatnya banyak kebijakan publik yang digagas pemerintah menjadi pemicu masalah baru di masyarakat.

City branding harus memanusiakan komunitas yang terlibat di dalamnya. Bayangkan, betapa ironisnya city branding ‘Enjoy Jakarta!’ yang sama sekali tidak relevan ketika macet dan banjir melanda.

Bagaimana bisa enjoy jika kotanya tidak bahagia. Apakah “Enjoy Jakarta!” cukup diukur dari sukses pesta diskon besar-besaran yang setahun sekali dirayakan? Tentu tidak.

Nilai yang Distinctive

Jangan terjebak dengan pariwisata. Ada banyak perspektif yang bisa digunakan untuk membangun destination branding. Yogyakarta misalnya, bisa menawarkan keunggulan kompetitifnya di bidang pendidikan.

Jika perspektif iniyang dipilih bisa jadi fasilitas pendukung edukasilah yang akan diprioritaskan untuk dikembangkan ketimbang memperbanyak hotel dan mal. Misalnya menjadikan Gunung Merapi sebagai asetbranding bagi riset vulkanologi.

Atau menjadikan aktivitas ekskavasi sebagai aktivasibranding yang lebih edukatif dengan cara melibatkan pengunjung awam. Tentu dengan pendampingan dan skala keterlibatan yang terukur.

Destination branding yang distinctive seperti ini harus terus ditumbuhkan di Indonesia. Agar kekayaan destination branding yang dimiliki Indonesia tidak terjebak pada perspektif yang sama.

Sekadar menginventarisir situs kuno, aset cagar budaya, kekayaan alam, varian kuliner, koleksi hotel dan mal lalu sudah merasa cukup untuk mempromosikannya dengan label destination branding.

Jika ini yang terjadi, maka destination branding yang dimiliki Indonesia tidak akan pernah kompetitif ketika bersanding dengan negara lain.

“Untuk destination branding yang mengandalkan situs kuno misalnya, bisa jadi kita sudah tertinggal jauh dari Yunani. Pemerintah Yunani sudah bisa menarik perhatian dunia hanya dengan mengirim pesan branding melalui larangan wisatawan memakai sepatu hak tinggi saat mengunjungi situs kuno. Alasannya hujaman hak tinggi tersebut lebih berisiko merusak batu situs, bahkan dibanding injakan kaki gajah. Hal serupa juga dilakukan oleh otoritas Roma. Mereka melarang pengunjung Colosseum membawa makanan dan minuman karena bercaknya yang melekat di batu akan sulit dibersihkan,” paparnya.

Edy menjelaskan bahwa aturan tersebut sebenarnya mengajarkan bahwa dalam mengembangkan destination brandingbrand value yang dibangun harus distinctive.

Karena nilai distinctive tersebut melekat pada aset branding yang perlu perlakuan khusus, maka aturan tersebut lahir. Kesadaran brand value semacam inilah yang sebaiknya ditumbuhkan.

Sehingga selain melindungi aset branding, aturan tersebut sekaligus juga menjadi paparan keunggulan kompetitif sekaligus membangun kesadaran baru yang mengesankan.

Dan, kesan tersebut nantinya tidak sekedar sebagai pembeda, namun juga sebagai pelekat pesan branding di benak target sasarannya.

Pendekatan brand value yang distinctive semacam inilah yang belum digali oleh hampir semua daerah di Indonesia yang tengah gandrung membangun destination branding-nya.

Karena itu, tidak heran jika banyak aset branding berupa situs atau kekayaan alam yang justru rusak oleh eksploitasi pariwisata yang serampangan.

Padahal, jika itu dikemas dalam perspektif riset keilmuan, justru akan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Tidak hanya finansial, namun juga reputasi baik yang mendunia.

Branding yang Asyik

Nilai yang distinctive harus disertai branding yang asyik agar komunikatif. Destination branding negara lain sudah berlomba melekat di liga sepakbola elit Eropa.

Tapi di saat yang bersamaan, beberapa destination branding di Indonesia, masih mengandalkan spanduk dan baliho yang dipajang di daerahnya sendiri bersamaan dengan foto kepala daerah setempat, baik walikota, bupati atau gubernurnya.

Edy prihatin dengan hal tersebut. “Ini jelas blunder yang sangat menggelikan. Kenapa bisa terjadi? Karena sejak awal, mereka tidak pernah memetakan strategi branding-nya secara mendalam. Kalaupun mereka sudah berhasil menemukan brand value yang distinctive, mereka jelas gagal mengenali siapa target komunikasi branding-nya,” tuturnya.

Sehingga mereka juga menjadi kesulitan merancang pesan yang harus disampaikan. Hasilnya, semua foto dimasukkan. Semua kalimat dituliskan.

Dan sekali lagi jangan lupa, foto pejabatnya ikut nampang dengan ukuran yang lebih besar ketimbang kampanye destination branding-nya.

Fatal! Branding yang komunikatif setidaknya memperhatikan ‘5C Media Context’. Tahap awal, kenali community yang menjadi target branding-nya dan sesuaikan concept komunikasinya. Selanjutnya kemas content dengan chic agar menarik.

Pastikan pesannya klir dan konsisten agar mudah dicerna dan tidak bias. Dan terakhir, perhatikan aspek commercial-nya. Karena komersialisasi akan turut memengaruhi aktivasi branding yang dilakukan untuk menguatkan penyampaian pesan.

Sering orang bilang, kalau mau melancong ke luar negeri, jangan ke Malaysia. Karena koleksi destinasinya tidak sekaya Indonesia.Tapi kenapa orang Indonesia masih berbondong-bondong terbang dengan AirAsia ke sana?

Karena ‘Malaysia Truly Asia’. Pada kesempatan yang lain lagi, orang juga bilang bahwa Singapura tidak menarik disambangi karena negara rasanya mal semua.

Namun, tetap saja jutaan orang penasaran ke Negeri Singa. “Ternyata gara-gara brandline mereka ‘Your Singapore’. Sehingga rasanya Singapura adalah kita,” ungkapnya.

Belum Bisa Menentukan City Branding

Kotabaru di Kalimantan Selatan juga belum bisa menciptakan branding yang bisa menarik minat wisatawan. Padahal, kabupaten ini dikenal dengan lagu daerah ‘Paris Barantai’.

Menurut Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kotabaru Rusian Ahmadi Jaya ketika ditemui patainanews.com beberapa waktu lalu, ‘Paris Barantai’ bisa memberikan inspirasi bagi pemerintah kabupaten Kotabaru untuk menetapkan city branding Kotabaru.

Begitu juga pemerintah provinsi Sumatera Selatan yang tengah mencari city branding yang pas dan merencanakan akan berkaitan dengan wisata sejarah sebab tak mungkin menggunakan budaya lantaran sudah melekat dengan Yogyakarta. (Gabriel Bobby)

 

 

 

About author



You might also like

Indonesiaku

Ahok Memimpin dalam Survei IReS

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (Ist) Survei membuktikan, pemilih loyal Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mencapai 35,5%. Sedangkan sisanya 14,8% mengaku akan berpindah ke calon lain jika ada yang

Slideshow

4 Desember, FPMDI Siap Gelar Syukuran

Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI) (Ist) Setelah resmi dideklarasikan dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak, Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI) merencanakan mengadakan tumpengan sebagai bentuk ucapan syukur keberadaan

Festival

Indonesia Jadi Country of Honor di IFTM TOP RESA 2018

Nia Niscaya (Ist) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, dan VITO Perancis akan berpartisipasi pada acara IFTM Top Resa 2018 yang diselenggarakan di

SightSeeing

Percepat Pembangunan Homestay, Kemenpar Gandeng BTN

Kemenpar kerja sama dengan Bank Tabungann Negara untuk pengembangan homestay (Ist) Pengembangan dan ketersediaan homestay untuk meningkatkan jumlah wisatawan, terus menjadi fokus Kementerian Pariwisata, salah satunya melalui kerja sama dengan

Airlines

Menanti Chef Degan Mempromosikan Kuliner Indonesia di Perancis

Chef Degan mempromosikan kuliner khas Indonesia di mancanegara (Ist) Degan Septoadji, seorang chef profesional asal Indonesia telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri boga. Mengenyam pendidikan dan mengawali karirnya di Eropa,

Festival

WPC Pastikan Ikut PATA Travel Mart 2017

PATA Travel Mart 2017 (Ist) Womanpreneur Community (WPC) memastikan ikut berpartisipasi dalam PATA Travel Mart 2017 di Makau. Adapun penyelenggaraan PATA Travel Travel Mart 2017 dimulai dari 13 hingga 15