Candi Cetho, Alternatif Libur Lebaran

candi di karanganyar

Lebaran sebentar lagi. Dan, libur panjang pun di depan mata. Beragam destinasi yang tersebar di negeri ini pun mulai menyiapkan diri menyambut kedatangan wisatawan. Bagi yang masih belum punya ide untuk menghabiskan libur Idul Fitri 1436 H, ada pilihan menarik di Karanganyar, Jawa Tengah.

Menurut Istar Yunianto, Staf Ahli Bupati Karanganyar ketika dihubungi patainanews.com belum ini, Candi Cetho menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik dalam dan luar negeri. Diantara heningnya hamparan kebun teh lereng Gunung Lawu, terdapat sebuah peninggalan purbakala yang biasa disebut Candi Cetho/Cetha.

Keberadaan kompleks Candi Cetho ini pertama kali dilaporkan oleh Van de Vlis tahun 1842 silam. Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli purbakala dunia karena unsur nilai kepurbakalaannya.

Pada 1928 silam, Dinas Purbakala telah mengadakan penelitian melalui ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap. Berdasarkan penelitian Van Der Vlis maupun A J Bernet Kempers, kompleks Candi Cetho terdiri dari empat belas teras.

Namun kenyataannya yang ada pada saat ini hanya terdiri dari tiga belas teras yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin ke belakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian.

Bentuk seni bangunan Candi Cetho mempunyai kesamaan dengan Candi Sukuh yaitu dibangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa prasejarah. Bentuk susunan bangunan semacam ini sangatlah spesifik dan tidak diketemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah kecuali Candi Sukuh.

Pada kompleks Candi Cetho banyak dijumpai arca-arca yang mempunyai ciri-ciri masa prasejarah, misalnya arca digambarkan dalam bentuk sederhana, kedua tangan diletakkan di depan perut atau dada.

Sikap arca semacam ini menurut para ahli mengingatkan pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Selain itu juga terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan cerita Cuddhamala seperti yang ada di Candi Sukuh dan relief-relief binatang seperti kadal, gajah, kura-kura, belut dan ketam.

Mengenai masa pendirian Candi Cetho, dapat dihubungkan dengan keberadaan prasasti yang berangka tahun 1373 Saka, atau sama dengan 1451 Masehi. Berdasarkan prasasti tersebut, serta penggambaran figur binatang maupun relief dan arca-arca yang ada, kompleks Candi Cetho diperkirakan berasal dari sekitar abad 15 dari masa Majapahit akhir.

Bangunan utama pada kompleks Candi Cetho terletak pada halaman paling atas/ belakang. Bentuk bangunan dibuat seperti Candi Sukuh dan ini merupakan hasil pemugaran pada akhir tahun 1970-an bersama-sama dengan bangunan-bangunan pendapa dari kayu.

Pada keadaannya yang sekarang, kompleks Candi Ceto terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk (yaitu teras ketiga) merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.

Sebelum memasuki aras kelima (teras ketujuh), pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi (tulisan pada batu) dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397.

Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ketujuh terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang.

Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern.

Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi. Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh.

Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. (Gabriel Bobby)

 

 

 

 

 

About author



You might also like

Hotel

Easter Care Brunch 2016

Grandkemang Jakarta Easter Care 2016 (Ist) Melanjutkan kesuksesan sebelumnya,  grandkemang Hotel Easter Care Brunch tidak hanya terfokus kepada acara makan keluarga di hari Paskah dan kegiatan untuk anak-anak, namun juga terfokus pada

Airlines

Wisman ke Borobudur Naik Cruise

Ilustrasi Cruise (Ist) Kapal pesiar MS Rotterdam yang membawa 1.258 wisatawan mancanegara (wisman) tiba di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Wisman pun memili berwisata ke Borobudur. Kapal cruise asal Belanda ini

Festival

Oktober Jalan-Jalan ke Soppeng Lihat Bunda Maria Pieta

Ilustrasi Patung Bunda Maria Pieta (Ist) Tak terasa akhir tahun semakin dekat. Dan, destinasi wisata di Indonesia yang harus diakui memang beragam akan semakin ramai dikunjungi wisatawan. Tak hanya bisa

Nature

Indahnya Kebersamaan LBI

Silaturahmi LBI (Ist) Indonesia kaya akan budaya khas yang diminati traveler, termasuk wisatawan mancanegara. Lintas Budaya Indonesia (LBI). Karenanya LBI sebagai wadah yang fokus dan peduli kebudayaan negeri ini yang

Tourism

Selamat Tahun Baru Imlek, Gong Xi Fa Cai

Imlek (Ist) Manajemen, redaksi, dan staf patainanews.com mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2567 Gong Xi Fa Cai Semoga Tahun Monyet Api membawa kedamaian, kebaikan, dan keberuntungan bagi kita semua, termasuk

Tour Package

Kotabaru Resmi Jadi Member PATA Indonesia

President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo di Wahana Hutan Meranti Kotabaru Pemerintah kabupaten (Pemkab) Kotabaru memutuskan bergabung menjadi member PATA Indonesia Chapter. Hal tersebut dilakukan karena Pemkab Kotabaru menilai PATA