Changing Story from Indonesia (That You Haven’t Heard)

elizabeth
Elizabeth Gilbert (Ist)
Harus diakui, Indonesia banyak menyimpan kisah inspiratif bagi banyak orang, termasuk wisatawan mancanegara yang berkunjung ke negeri ini.
Sebut saja Elizabeth Gilbert, penulis Eat Pray and Love. Ya, siapa sangka Elizabeth Gilbert, penulis novel Eat, Pray, Love punya kisah lain tentang Indonesia yang tidak pernah diceritakannya.
Kisah ini menjadi bukti Indonesia bisa menjadi inspirasi wisatawan dunia. Sudah banyak traveler membaca novel Eat, Pray, Love, tentang bagaimana sang penulis mendapatkan pencerahan hidup.
Bahkan, novel ini sudah dibuat film dengan menampilkan aktris Julia Robert yang sukses mendongkrak pariwisata Bali. Namun, ternyata Elizabeth masih menyimpan kisah yang tidak terungkap dalam novelnya.
Dia menulis sendiri kisah ini untuk Conde Nast Traveler pada edisi 1 Maret 2016. Kenapa kisah ini baru diungkap sekarang? Begini ceritanya:
Elizabeth mengungkapkan ujung petualangannya di Indonesia bukanlah Bali. Dia pergi sampai ke sebuah pulau terpencil di arah timur Bali.
Dia tidak menyebutkan pulaunya, namun diduga ini ada di Nusa Tenggara Barat (NTB) lantaran dia menyebutkan alat transportasi di pulau itu hanya perahu dan kereta kuda.
Judul artikelnya adalah Elizabeth Gilbert’s Life-Changing Story from Indonesia (That You Haven’t Heard). Seperti judulnya, dia mengatakan di pulau nelayan terpencil ini, pandangan hidupnya berubah.
Seperti diketahui, Elizabeth traveling di dunia karena hidupnya mengalami depresi berat. Di pulau ini dia menyewa rumah bambu, dan melewati hari-hari galaunya dengan jalan kaki keliling pulau pada pagi dan sore hari.
Elizabeth banyak menangis sepanjang tinggal di sini, pada awalnya. Ketika dia jalan kaki keliling pulau, dia selalu melewati rumah seorang nelayan muslim yang istrinya berjilbab.
Sang istri selalu tersenyum ketika Elizabeth lewat, bahkan belakangan seperti menunggu Elizabeth lewat setiap hari. Dia tak mengerti berbahasa Inggris, Elizabeth pun tak bisa bahasa Indonesia.
Suatu ketika Elizabeth sakit parah berhari-hari di rumah bambunya. Dia sedih sekali karena tidak ada seorangpun yang dia kenal di pulau ini.
Bahkan dia hidup tanpa jaringan internet sehingga para sahabatnya pun tidak tahu nasibnya. Dalam keputusasaan itu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Muncul sang istri nelayan. Dengan bahasa yang tidak Elizabeth pahami, perempuan itu memeriksa kondisi tubuh dirinya yang sakit. Dia pergi sebentar lantas kembali membawa nasi dan tumbuhan obat.
Perempuan itu menemani Elizabeth makan dan memeluknya akrab. Perempuan ini tahu Elizabeth dalam masalah karena tidak muncul berkeliling pulau seperti biasa.
Elizabeth sungguh tak menyangka perempuan ini begitu perhatian dengan dirinya. Di titik itu Elizabeth menyadari kesalahannya selama ini.
Masalah hidup membuat dirinya mengisolasi diri. Padahal yang dia butuhkan adalah hubungan dengan orang lain. “Dia tidak hanya menyembuhkan saya, tapi mengajari saya ini: jangan sendirian dan jangan sombong. Lihat orang lain dan biarkan diri kamu terlihat oleh orang lain. Bantu orang lain dan biarkan diri kamu dibantu orang lain. Buat kontak dan terbuka untuk kebaikan orang lain,” kata Elizabeth.
Nah, kenapa Elizabeth baru cerita soal ini sekarang? Pertama, menurut dia, sejak tragedi 11 September silam, banyak orang takut dengan Islam termasuk Indonesia.
Elizabeth ingin mengatakan justru di Indonesia dia berjumpa muslim yang dia sebut sebagai orang paling baik yang dia kenal. “Dia memeluk saya dengan aman ketika saya sangat ketakutan, dan dia membantu saya sembuh. Dia menjadi contoh bagaimana kita semestinya saling menjaga satu sama lain di dunia ini… Ketika orang takut dengan dunia Islam, saya selalu memikirkan dia,” ujarnya.
Kedua, secara umum Elizabeth melihat orang-orang modern kini hidup dalam ketakutan, penuh curiga. Mereka ibarat mengisolasi diri sendiri dari permasalahan hidup, justru itu salah.
Sifat yang hangat serta terbuka dari seseorang akan menyelamatkan diri mereka, bukan dengan mengunci diri di rumah.
Di akhir tulisannya, Elizabeth memiliki solusi bagi permasalahan hidup banyak orang.
Dia meminta semua orang mengambil falsafah hidup para traveler, bertualang, bertemu dengan banyak orang dan hidup saling bantu membantu.
Dengan begitu saling mengatasi masalah satu sama lain. “Saya ingin hidup di dunia yang penuh orang yang saling melihat di sepanjang jalan lalu bertanya. Sahabatku, siapa namamu, bagaimana kita saling membantu? Untuk itu kita semua mesti menjadi traveler, di dunia, di masyarakat dan dalam pikiran kita. Kita ibarat berjalan ke sisi lain pulau, saling mengetuk pintu rumah dan membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan kita,” tutupnya.
Sungguh kisah yang inspiratif! Sebuah norma dan filsafat hidup orang Indonesia yang tersimpan baik di sebuah desa nelayan dalam pribadi seorang istri nelayan Muslim, menunggu seorang Elizabeth Gilbert menemukannya untuk diceritakan ke seluruh dunia. (Gabriel Bobby/berbagai sumber)


About author



You might also like

SightSeeing

Batik, Pemersatu Rakyat Indonesia jadi Kebanggaan Masyarakat Dunia

Batik Lindy Ann (Ist) Batik memang tak bisa dibantah kini semakin digemari masyarakat dunia. Namun, batik juga disebut sebagai alat pemersatu rakyat Indonesia. “Batik menurut saya adalah pemersatu semua lapisan

Cuisine

Presiden Jokowi Hadiri Pesta Laut Mappanretasi 2017

Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana hadir di Pesta Laut Mappanretasi 2017 (Ist) Ribuan pengunjung sangat antusias mengikuti puncak acara Pesta Laut Mappanretasi 2017, yang digelar di Pantai Pagatan, Kabupaten Tanah

Destinations

Vynn Capital Ingin Bantu Bisnis Tradisional Indonesia ke Ekonomi Digital

Victor Chua (Ist) Perusahaan Venture Capital asal negeri jiran, Malaysia, Vynn Capital diketahui tengah gencar menyasar startup di Asia Tenggara. Indonesia pun menjadi salah satu target negara yang akan didanai

Hotel

Project Kemanusiaan Mengantar EXO Travel Raih PATA Gold Awards 2016

PATA Gold Awards 2016 (Ist) EXO Travel Group yang berkantor pusat di Thailand dalam penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 di venue Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD City, Banten pada

Indonesiaku

Pelindo III Bukber dengan Yatim Piatu

Anak yatim yang ikut bukber dengan manajemen PT Pelindo III (Ist) Manajemen BUMN kepelabuhanan, PT Pelabuhan Indonesia III atau Pelindo III mengundang tak kurang dari 100 anak yatim piatu dan

Nature

Sukseskan ASIAN GAMES 2018, BRI akan Luncurkan Kartu Wonderful Indonesia

 Prilly Savitri, Vice President Marketing Communication PT BRI (tengah) dalam press conference BRIZZI Artcycling (Ist) Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan siap mendukung penyelenggaraan ASIAN GAMES 2018 yang digelar di