Festival Cikadu yang Penuh Cinta Lengkapi Tanjung Lesung

kampung cikadu

Pencak Silat yang asli Indonesia tampil di Festival Kampung Wisata Cikadu (Ist)

Perhelatan budaya bertajuk Festival Kampung Wisata Cikadu digelar. Kampung Cikadu pun bersolek.   Memasuki area pagelaran, wisatawan disuguhi berbagai macam kerajinan dan makanan khas Kampung Cikadu, desa Tanjungjaya.

Mulai dari kerajinan tas sampai pada ukiran yang kebanyakan berbentuk Badak bercula satu yang merupakan hewan langka dari Banten. Selain kerajinan tangan, traveler disuguhi berbagai macam kuliner khas Cikadu. Tak ketinggalan batik Cikadu turut meramaikan stan festival yang digelar Sabtu (9/9/2017).

Dalam sambutannya, Camat Panimbang menyampaikan harapannya bahwa festival ini seharusnya menjadi sebuah langkah baru bagi kampung wisata Cikadu menyiapkan diri menyambut percepatan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung.

Minimnya atraksi destinasi yang menjadi ujung tombak sebuah industri pariwisata masih kurang digali meski banyak potensi dari kampung wisata ini. Festival ini juga bukannya tanpa persiapan. Para pengisi acara festival ini sebelumnya menjalani pelatihan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Seniman Mengajar.

Selama satu bulan penuh, lima orang seniman multi disiplin kesenian melakukan live in di Kampung Cikadu memberikan pelatihan tari, teater, media, rupa dan musik. Para seniman sekaligus pelatih tidak menghadirkan hal baru dalam memilih tema seni pertunjukkannya.

Mereka hanya memoles kesenian yang sudah ada agar layak ditampilkan dan menjadi atraksi untuk menghibur wisatawan. Sebagai contoh, seni pertunjukan tari menampilkan tari Kendang Pencak yang merupakan paduan dari seni bela diri pencak silat diiringi musik tabuhan kendang (gendang).

Demikian halnya dengan pertunjukan teater, alih-alih membawa tema pertunjukan dari luar Kampung Cikadu, Yudhi Bayong, seorang seniman sekaligus pembimbing dari kelompok teater Tanjung membawa lakon Lesung Keramat yang bercerita tentang legenda asal mula daerah Tanjung Lesung. 

Seni musik menampilkan gamelan Sunda dimana komunitasnya sudah ada di kampung Cikadu. Demikian halnya dengan atraksi debus yang dilaksanakan oleh sanggar debus setempat. Dengan segala keterbatasannya, kampung Cikadu berhasil membuat sebuah pagelaran budaya.

Didukung sebagian besar elemen masyarakat kampung Cikadu, yakni pemuda, guru, kelompok kesenian dan jajaran pemerintah kampung, festival ini bisa dibilang cukup sukses. Hingga acara usai sekitar pukul 23.00 WIB, pengunjung tak kunjung berkurang, malah justru bertambah mengingat adanya sebuah pentas teater sebagai penutup Festival Kampung Wisata Cikadu.

Festival ini menjadi puncak atas program Seniman Mengajar gelombang dua yang berhasil menginventarisir potensi-potensi wisata di Kampung Cikadu. Yudhi Bayong mengatakan bahwa sebaiknya ada keterlibatan pihak-pihak luar desa, baik itu sektor swasta maupun pemerintah untuk menindaklanjuti program ini di Kampung Cikadu, sebuah program eco-tourism dan cultural tourism yang berkelanjutan (sustain).

“Untuk pertama kita membuat festival ini kita hanya mengandalkan cinta (kepada kampung Cikadu) sebagai asupan penyemangat pokdarwis agar festival ini bisa berjalan. Setelah itu tidak ada lagi cinta, semua akan bicara tentang kebutuhan,” lanjutnya,

“Nah, ini alasan mengapa pihak-pihak yang memiliki kepentingan (stakeholders) perlu untuk terlibat.” Berbicara tentang desa wisata, kampung Cikadu sedang berdandan untuk mewujudkan itu semua. Kampung yang memiliki sanggar seni di tengah kampung itu kini sedang menyiapkan infrastruktur lain untuk mendukung menjadi desa wisata.

Namun apa yang akan menjadi atraksi jika bangunan sudah tersedia? Ini salah satu pertanyaan yang perlu dijawab oleh para stakeholders agar gelar desa wisata yang sudah digadang-gadang menjadi kenyataan. Banyak pertanyaan yang perlu didiskusikan untuk mengembangkan kampung Cikadu dari sektor wisata.

Senada dengan tujuan ini, Karim Amrullah selaku ketua panitia Festival Kampung Wisata Cikadu sekaligus ketua pokdarwis Cikadu mengemukakan, pentingnya untuk mengenalkan Cikadu sebagai kampung wisata melalui budaya dan kerajinan khas Cikadu.

“Apalagi desa Tanjungjaya adalah sentra penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Jadi sebelum wisatawan datang ke Tanjung Lesung bisa mampir dulu ke kampung kami. Jadi kami memperkenalkan kampung ini melalui budaya dan kerajinan-kerajinan yang masyarakat buat, bukan kita yang harus ke sana,” ucapnya. 

Kesadaran akan pentingnya atraksi dan suvenir khas Cikadu sebagai tawaran atas destinasi desa wisata sudah menjadi perhatian bukan saja panitia, tapi juga warga desa. Sekarang bagaimana dengan kesiapan warga desa Tanjungjaya, khususnya kampung Cikadu untuk menjadi desa wisata. (Gabriel Bobby/THF)

About author



You might also like

SightSeeing

Mengelola Destinasi Wisata Bahari Indonesia, Mengembalikan Kejayaan Bangsa Maritim

Segera ikut PATA Travel Mart 2016 (Ist) Negeri ini sudah lama dikenal sebagai bangsa maritim yang besar. Tak heran jika kemudian tercipta lagu legendaris berjudul ‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut’ sehingga

Nature

Morotai Diandalkan untuk Menarik Turis Asing

Chairman PATA Indonesia Chapter SD Darmono (ketiga dari kiri) mendampingi Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Morotai Weni Paraisu (Ist) Sebagai upaya mendorong pengembangan destinasi ke tingkat dunia, Morotai di

Tourism

Pelindo III Butuh Dukungan Pemkot Denpasar Kembangkan Pelabuhan Benoa

Direktur Utama PT Pelindo III Djarwo Surjanto (Ist) Manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III mengaku siap mengembangkan Pelabuhan Benoa di Bali lantaran pelabuhan yang ada di Pulau Dewata itu yang

SightSeeing

Perlu Sentuhan Personal dalam Pariwisata

Presiden Direktur PT JAS Adji Gunawan (Ist) Wisatawan mancanegara yang selama ini berkunjung ke Indonesia untuk menikmati pariwisata dan budaya negeri ini memang beragam. Turis asing yang datang ke Tanah

Destinations

BIJB Incar Penumpang Jawa Tengah

Virda Dimas Ekaputra (Ist) Manajemen PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) memastikan keberadaan bandar udara yang terletak di Kertajati, Kabupaten Majalengka itu tak hanya untuk penumpang dari wilayah Jabar, namun