Gubernur Maluku Buka Pesta Teluk Ambon

FB_IMG_1473378645840

Pembukaan Pesta Teluk Ambon ke-11 (Ist)

Gubernur Malaku Said Assagaff membuka Pesta Teluk Ambon ke-11 dan meluncurkan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017 , Kamis (8/9/2016).  Acara Pesta Teluk bertema Alam Beta Indah tersebut berlangsung di lapangan Polda Maluku di Tantui, Ambon.

Adapun Pesta Teluk Ambon berlangsung pada 8 hingga 10 September 2016. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Maluku sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Rosmin Tutupoho mengatakan, Pesta Teluk Ambon telah berlangsung 11 kali.

“Acara ini terselenggara berkat kerja sama Pemprov Maluku dengan Kementerian Pariwisata. Sejumlah acara yang ditampilkan antara lain Arumbae Manggurebe yang diikuti peserta dari negeri-negeri adat yang ada di Maluku, lomba perahu semang, lomba memancing tradisional, dan lomba foto pariwisata, serta lomba bintang pelajar,” paparnya dalam siaran pers yang diterima patainanews.com, Jumat (9/9/2016).

Dalam kesempatan itu juga diadakan peluncuran peringatan HPN 2017 yang secara simbolis dilakukan pemukulan tifa, pelepasan balon HPN, dan pelepasan burung merpati oleh Gubernur Maluku.

Alam Eksotik
Gubernur Maluku dalam sambutannya mengajak masyarakat Maluku untuk selalu bersyukur terhadap kekayaan alam dan budaya Maluku yang sangat eksotik. Event Pesta Teluk Ambon telah menjadi agenda pariwisata tahunan Pemprov Maluku dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day), yang ditetapkan oleh World Tourism Organization dan diperingati setiap 27 September.

Biasanya Pesta Teluk Ambon dilaksanakan setelah peringatan Hari Pariwisata Dunia yaitu pada 28 hingga 30 September. Akan tetapi tahun ini pelaksanaannya dimajukan dalam rangka menyemarakkan HUT GPM  ke-81 pada 6 September, HUT ke-441 Kota Ambon  pada 7 September sekaligus launching Hari Pers Nasional (HPN) 2017.

“Eksotisme bahari Indonesia timur memang tak habis dijelajah. Birunya laut dan putihnya pasir pantai seakan menjadi magnet tersendiri untuk mengundang anda kembali menikmati panorama bumi Tanah Air Beta,” kata Said.

Pesta Teluk Ambon dipusatkan di pinggir Teluk Ambon dengan pemandangan yang sangat indah. Nun jauh di seberang teluk itu terdapat bukit-bukit menghijau. Di sebelah kanan membentang panjang Jembatan Merah Putih yang tahun ini baru diresmikan.

Di Teluk Ambon sendiri lalu lalang kapal-kapal, termasuk perahu-perahu masyarakat yang akan mengikuti lomba. Menurut Gubernur Maluku, acara ini untuk menarik minat pelancong berkunjung, baik domestik maupun internasional di samping menumbuhkan investasi dan perluasan bisnis pariwisata.

Pesta Teluk Ambon juga dipercaya mampu mempererat tali persaudaraan dan nasionalisme baik bagi warga Maluku sendiri dan seluruh rakyat Indonesia. Nama pesta Teluk Ambon, kata Gubernur Maluku, mencerminkan dua hal yang sangat khas untuk Maluku.

Pertama, Teluk Ambon memiliki keindahan yang sangat menakjubkan sekaligus menjadi pusat transportasi dan perdagangan Maluku yang  dikenal sejak zaman kolonial hingga dewasa ini. Di Teluk Ambon yang indah ini, masyarakat Maluku selalu menyaksikan beragam perahu dan kapal yang datang dan pergi sebagai pertanda bahwa teluk ini adalah urat nadi kehidupan warga Maluku.

Apalagi  di Teluk Ambon kini terpancang Jembatan Merah Putih, yang menghubungkan Jazirah Leitimur dan Jazirah Leihitu sebagai icon teluk, baik  untuk mempermudah akses transportasi, maupun menambah keindahan teluk ini.

Kedua. Teluk Ambon ini memiliki nilai historis serta sosial kultural yang sangat kaya. Jika diperhatikan secara baik, teluk ini berada di tengah antara wilayah adat Leihitu dan Leitimur, yang dapat dimaknai sebagai penghubung atau pertalian antara masyarakat Leihitu dan Leitimur sekaligus menjadi sumber kehidupan untuk semua orang basudara di daerah ini.

Pada aspek yang lain, keberadaan teluk Ambon sebagai pusat transportasi dan dagang, telah menjadi media perjumpaan dan akulturasi pelbagai budaya, baik antara masyarakat indigeneous people (masyarakat asli) dengan pendatang, maupun masyarakat pendatang dengan masyarakat pendatang sehingga Maluku secara umum dan Ambon secara khusus sejak awal dibentuk sudah menjadi kota yang kosmopolitan karena lahir dari Dadomi dan Tali Pusa Multikultural.

Menurut Said, sejak menjadi pusat rempah-rempah yaitu Cengkeh dan Pala, Maluku, khususnya Ambon menjadi tempat perjumpaan pelbagai saudagar, baik dari Nusantara, maupun dari mancanegara, terutama Arab, Tiongkok, Persia, Gujarat, India, dan Eropa.

Semuanya datang ke negeri datuk-datuk ini melalui jalur sutera (silk road) dan jalur rempah (spice route).  Maka, tak mengherankan sejak awal Maluku, khususnya kota Ambon selain menjadi Baeleo untuk masyarakat Siwalima juga menjadi Baeleo Nusantara untuk berbagai suku bangsa di Nusantara, serta Baeleo dunia untuk beraneka bangsa yang datang dari belahan bumi ini.

Fakta Maluku, khususnya Ambon telah menjadi Baeleo bersama Orang Basudara itu dapat dilihat dari beragam fam atau marga di daerah ini, misalnya, dari Sulawesi Selatan menggunakan fam Bugis atau Makassar, dari Sulawesi Tenggara menggunakan inisial La atau Wa, dari Sumatera, pakai fam Padang, Palembang.

Sementara dari Arab ada yang pakai fam Assagaf, Al-Idrus, Basalamah, Attamimi, dan lainnya. Dari Belanda ada yang  pakai fam Van Afflen, Van Room, De Kock, Ramschie,  Payer, serta yang lainya. Dari Portugis ada yang pakai fam Da Costa, De Fretes, De Lima, Fareire, masih banyak lainnya.

Dari Tiongkok ada yang pakai fam, Lie, Khouw, dan lain-lain. Kemudian, juga bisa ditemukan beragam agama di sini, ada Salam (Islam), ada Sarane (Protestan dan Katolik), ada Hindu, ada Buddha, dengan agama-agama suku, yang dianut katong pung basudara dari suku Naulu dan Hualu.

“Hal yang menarik, dari hasil akulturasi itu muncul berbagai seni budaya yang sangat kaya dengan nilai-nilai multikultural. Misalnya akulturasi budaya lokal dengan Islam atau Arab,  seperi Abda’u di Tulehu, Pukul Sapu di Mamala-Morela, Tarian Sawat. Akulturasi budaya lokal dengan Arab dan Melayu seperti tarian Dana-Dana serta akulturasi budaya lokal dengan Barat, seperti Tari Katreji, musik Hawaian, tarian Oralapei, Dansa Ola-Ola, dan tarian Cakaiba,” paparnya.

Hal yang menarik, meski ada keragaman seni budaya serperti itu ada juga seni budaya yang menyatukan keragaman Orang Basudara di daerah ini, antara lain tari Cakalele, budaya Makan Patita, Bambu Gila, dan lainnya.

Semua kekayaan seni budaya yang lahir dari perjumpaan di Teluk Ambon ini merupakan potensi wisata budaya yang sangat kaya. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Destinations

Turis Asing Tertarik dengan HUT Kota Yogyakarta

Kawasan Malioboro jadi andalan wisata Kota Yogyakarta (Ist) Pesta Rakyat yang menjadi tema HUT ke-259 Kota Yogyakarta menjadi daya tarik bagi wisatawan, termasuk turis asing lantaran ditampilkan potensi budaya masyarakat.

Festival

Worro Perkenalkan PIjat Tradisional Nusantara di Perancis

Promosi pijat Nusantara di Perancis (Ist) Sebagai upaya menunjukkan kebudayan pijat tradisional asal Indonesia yang terkenal otentik, maka Kementerian Pariwisata bersama dengan VITO Perancis membawa Master Spa Indonesia, Madame Worro

Investments

GM Tanjung Perak Ajak Stakeholder ke Bulan

Mengenalkan General Manager PT Pelindo III Pelabujhan Tanjung Perak Joko Noerhudha (Ist) Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini selalu dipegang oleh General Manager baru PT Pelindo III Pelabuhan Tanjung Perak

Hotel

Presiden Jokowi Ajak Vote, Video Pariwisata Indonesia Juara Umum di UNWTO

Menteri Pariwisata Arief Yahya (Ist) Keren! Video pariwisata Wonderful Indonesia: The Journey of a Wonderful World akhirnya juara dunia! Dua kategori diborong tuntas, dalam kompetisi video pariwisata dunia yang digelar

Tourism

Pelindo III Serius Majukan Wisata Bahari

Logo PT Pelindo III (Ist) Sebagai upaya mendukung pemerintah merealisasikan target Presiden Jokowi mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara hingga 2019 mendatang, manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III mengaku sangat serius

Slideshow

Arief Yahya Paparkan Sukses Pariwisata Indonesia di Forum Dunia

Menteri Pariwisata Arief Yahya menghadiri WTTC/UNWTO Ministerial Dialogue with Private Sectors CEO’s Investments and Partnerships for Sustainable Tourism Development, yang diselenggarakan di Grand Hyatt Erawan, Bangkok Thailand (25 April 2017)