Jepang sedang ‘Hijrah’ Menjadi Negara Pariwisata, Pembelajaran bagi Sulawesi Utara dan Indonesia

monumen_tuhan_yesus_memberkati_manado

Monumen Yesus Memberkati di Manado (Ist)

Jepang yang selama ini dikenal sebagai negara dengan industri otomotif dan electronik termaju di dunia diketahui sedang beralih menjadi ‘a truly tourism-oriented nation.

Setelah Fukushima Nuclear Disaster yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami yang dahsyat pada 11 Maret 2011 silam, pemerintah Jepang mengubah haluan pembangunan ekonominya menjadi ‘negara pariwisata’. Lima┬átahun setelah itu berkat kesungguhan pemerintah, jumlah wisatawan mancanegara atau Foreign Tourist Arrivals (FTA) ke Jepang naik luar biasa.

Pada 2016 lalu, FTA mencapai 24 juta orang atau naik dua kali lipat dibanding tahun 2014. Suatu sukses yang luar biasa mengingat sumbangan tourism kepada ekonomi Jepang tahun 2014 silam saja adalah sebagai berikut:
1. Travel spending 22.5 triliun YEN (Production ripple effect 46,7 triliun YEN)
2. Job creation effect : 2,08 juta (Job created including ripple effect:3,9 Juta jobs).

Sebenarnya sudah sejak lama pemerintah Jepang menyadari pentingnya pariwisata dan ini terbukti dengan dilancarkannya kampanye Visit Japan tahun 2003. Tapi pelaksanaanya tidak secara sungguh-sungguh hingga mereka mengalami berbagai kesulitan terutama persaingan yang ketat di industri utama mereka dan bencana alam.

Menyadari semua itu Perdana Menteri Jepang tahun 2012 dengan ‘Abenomic’ menetapkan policy baru yang menjadikan tourism sebagai lokomotif ekonomi Jepang. Target yang ditetapkan sebelumnya dinaikkan dua kali lipat dari 20 juta menjadi 40 juta pada 2020 mendatang dan 60 juta pada tahun 2030 dengan tourist spending diperkirakan sebesar 15 triliun YEN yang diharapkan dapat mendorong pencapaian goal : 600 triliun GDP.

The Japan Times melaporkan bahwa The size of Japan’s inbound tourism industry in 2016 equals to that of its auto part export. Kondisi di airport, pusat kota dan pusat tourist sudah jauh berbeda dengan dekade-dekade sebelumnya. Pemandangan dimana Japanese tourists ‘membanjiri dunia’ dan terlihat barisan Japanese tourist hampir disetiap airport,dimana saja sudah tidak ada lagi atau menurun drastis.

Jumlah outbound tourist disalib oleh jumlah inbound tourist yang mulai ‘membanjiri’ Jepang, terutama dari kawasan Asia Pasifik. Jepang sudah tidak semahal pada masa lalu terutama saat ‘Yendaka’ (nilai yen sangat tinggi terhadap USD).

Pada masa itu sangat jarang bisa melihat orang asing berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan. Sekarang ini lebih banyak orang asing yang berbelanja di Ginza, pusat perbelanjaan termewah di Tokyo. Memang tidak terlalu kelihatan karena kebayakan tourist adalah Chinese, Korean dan yang berasal dari negara Asian lainnya.

Pengamatan penulis dari segi angkutan udara khususnya airlines bahwa telah terjadi perubahan yang luar biasa di Jepang yang bisa menjadi bahan pelajaran bagi Indonesia.

Pada masa penulis masih dinas di Tokyo (1993-1996), tidak terbayangkan akan ada airlines lain yang berbasis di Jepang (Japan’s designated airlines) selain Japan Airlines (JL) and All Nippon Airways(NH) karena demikian besar dominasinya sampai ke hampir seluruh ‘eco-system’ travel and tourism industry di Jepang lengkap dengan ‘JAL City’.

JL and NH menjadi kebanggaan orang Jepang dan mereka ‘dibentengi’ oleh aturan pemerintah yang sangat ketat bagi pendirian airlines baru apalagi milik asing sehingga saat mendengar kebangkrutan JL tahun 2010, penulis membayangkan ‘hancurnya travel and tourism industry di Jepang’ setelah itu.

Tapi kenyataannya tidak demikian. Memang tergoncang hebat tapi tidak hancur. Saat ini JL sudah di-makeover dan mulai kembali beroperasi, termasuk ke Bali mulai 17 Juni 2017 dengan charter flights. Yang menarik diperhatikan bahwa disamping JL and NH, terdapat tidak kurang dari delapan Low Cost Carriers (LCC) baru sebagai designated carriers atau ‘berbendera Jepang’ yang sebagian modalnya milik asing.

Kalau dahulu airlines international ke dan dari Tokyo hanya boleh beroperasi di Narita, sedangkan Haneda hanya untuk domestik. Sekarang Haneda pun dibuka untuk international flight, termasuk Garuda Indonesia yang beroperasi ke dan dari airport tersebut sejak dua tahun yang lalu.

Kebijakan yang terbuka ( deregulasi) terbukti telah mendorong Aviation market tumbuh semakin pesat dan dengan unsur pertumbuhan yang lebih kuat,sehat dan berketahanan. Pendapatan dari pariwisata tahun 2015 dilaporkan, bernilai JPY 3.4 triliun atau Rp401,8 triliun.

Economic impact(direct/indirect/induced) terutama PDB & Employment (Job created) dinikmati oleh rakyat/masyarakat luas. Guna mengantisipasi kecukupan kamar hotel/inn dalam menyambut lonjakan jumlah FTA dan yang pada saat yang sama tourist domestic juga akan naik karena kenaikan ekonomi rakyat, maka diterapkanlah ‘minpaku’ semacam homestay atau ‘offering paid accomodation in private homes”.

Pertanian dan perikanan rakyat juga ditingkatkan untuk kebutuhan tourist yang naik berlipat ganda. Jika program ini dilaksanakan dengan baik maka dampak positif dari pariwisata akan sangat besar dan secara luas dinikmati rakyat sampai ke desa-desa.

Dampak ikutan lainnya adalah rakyat yang sadar akan manfaat pariwisata akan menjaga lingkungan alamnya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab sebagai modal kehidupan mereka. Target 40 juta wisman pada tahun 2020 mendatang, belumlah luar biasa dibanding, misalnya dengan Singapura yang berpenduduk 5.7 juta, kedatangan 16,4 juta wisman pada tahun 2016.

Akan tetapi melihat kesungguhan pemerintah dan capaian angka kenaikan maka yang dilakukan dan yang terjadi di Jepang bisa menjadi pelajaran bagi kita. Pelajarannya atau Lessons learnt antara lain sebagai berikut:
#1. Alam yang indah adalah pemberian Tuhan untuk kesejahteraan manusia. Sebagai berkat bagi masyarakat setempat dan untuk memberi BERKAT bagi banyak orang.
#2.Benarlah ungkapan ‘setiap celaka ada gunanya’. Tapi SELALU ADA JALAN keluar dan kita akan berhasil jika kita tidak sombong, berupaya dengan baik dan benar.
#3.Industri PARIWISATA terbukti lebih ‘berketahanan’ dan ampuh untuk mendorong ekonomi yang ‘raksasa’ sekalipun.
#4. Pertumbuhan dan ketahanan suatu ekonomi hanya bisa diupayakan melalui PERSAINGAN (yang sehat tentunya). Jangan hanya mengandalkan satu perusahaan/satu pengelola/satu operator/satu investor sehebat dan sesetia apapun dia.
Siapapun yang baik termasuk orang asing/modal asing/swasta/bumn/bumd, bahkan Perorangan harus diberikan KESEMPATAN YANG SAMA sesuai aturan yang berlaku.
#5. KOORDINASI terbukti sangat penting. Di Jepang, bidang-bidang yang vital untuk pariwisata berada di bawah satu koordinasi yakni di bawah Ministry of Land, Infrastructure,Transport & Tourism.

Menurut Menteri Pariwisata RI Dr Ir Arief Yahya M Sc bahwa keberhasilan dalam membangun suatu destinasi hanya dapat diraih jika terdapat KOMITMEN yang kuat dari ‘CEO’ daerah yang bersangkutan yakni Gubernur untuk provinsi dan Bupati/Walikota untuk Kabupaten/Kota.

Kita sudah memiliki komitmen yang kuat dari Gubernur Sulut dan Walikota Manado serta hasilnya sudah mulai nyata terlihat. ┬áMari jo torang sama-sama ‘baku malendong’ membangun ekonomi Sulut dengan pariwisata sebagai ‘lokomotiif’.

Demikian sebagai suatu renungan, semoga bermanfaat.

Jakarta, 27 Juni 2017
Robert D Waloni
#Tenaga Ahli Menteri Pariwisata RI Bidang Aksesibilitas Udara
# Chairman INDONESIA AVIATION RESEARCH CENTER
# President Director PT Ritma Wijaya Aviasi
With best regards

Robert Waloni

 

About author



You might also like

Slideshow

Garuda Indonesia Pastikan Terbang ke Silangit, Pariwisata Danau Toba Bakal Maju

Garuda Indonesia (Ist) Sebagai wujud komitmen maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia dalam mendukung pertumbuhan pariwisata Danau Toba dan meningkatkan konektivitas di wilayah Silangit dan sekitarnya, maka Garuda Indonesia melayani

Nature

Kedubes Asing Pameran Seni dan Budaya Menarik Minat Kunjungan Wisatawan

Hasil karya kaligrafi Mongolia yang penuh seni memikat pengunjung Memperingati 60 tahun kerja sama hubungan bilateral pemerintah Mongolia dengan Indonesia, Kedutaan Besar Mongolia menggelar acara pameran seni kaligrafi. Gubernur DKI

Destinations

2019, Indonesia Siap Jadi Nomor Satu Wisata Halal

Wisatawan asing menyatu dengan warga setempat di Gili Trawangan, Lombok (Ist) Tren wisata halal kian nyaring di industri pariwisata dunia. Karenanya Indonesia tak mau kalah dengan negara-negara lain, seperti Thailand,

Culture

Sumbar yang Kaya Potensi Wisata Jadi Tuan Rumah HPN 2018

Menteri Pariwisata Arief Yahya (kanan) (Ist) Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut Sumatera Barat (Sumbar) kaya akan potensi wisata alam dengan ditambah masih kuatnya nilai adat leluhur yang dipegang masyarakatnya. “Sumatera

Cuisine

Tenun Ikat Kediri, Menjaga Warisan Negeri yang Memikat Wisatawan

Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama istri Wakil Presiden Ibu Mufidah Jusuf Kalla ketika melihat langsung Tenun Ikat Kediri (Ist) Budaya khas Nusantara menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya

Hotel

ICE Kebanggaan Indonesia

Siti Karmila (Ist) Presiden Jokowi diketahui telah meresmikan ICE (Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang berdiri di atas lahan seluas 22 hektare di Bumi Serpong Damai, Banten, Selasa (4/8/2015). Ya, ICE