Jin Air Tertarik Terbang ke Indonesia

di Lombok

Wisatawan asing di Lombok (Ist)

“Persoalan kritis mengapa wisatawan mancanegara asal Korea Selatan rendah itu adalah akses! Direct flight Seoul ke Jakarta dan Denpasar sangat terbatas, dan semua full service! Tidak ada LCC, low cost carrier,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya di Seoul, Korsel Kamis (2/6/2016).

Karena itu kesempatan bertemu muka dengan Presiden Jeju Air Ken Choi dan GM Jeju Air Park Hyuk itu menjadi istimewa. “Kami tertarik terbang ke Manado karena bisa di-connect dari penerbangan kami ke Filipina. Ada dua hal yang harus kami tempuh dulu, pertama izin mendapatkan slot untuk mendarat di Manado. Kedua, kami harus punya mitra lokal, atau penerbangan Indonesia untuk bekerja sama,” kata Ken Choi, bos Jeju Air yang berdiri sejak 2005 silam.

Siaran pers yang diterima patainanews.com, Sabtu (4/6/2016) menyebutkan, Jeju Air adalah maskapai yang sahamnya dimiliki oleh Aekyung Group (81,7 persen) dan Pemerintah Provinsi Jeju (4,54 persen). Jeju Air lahir untuk menggenjot kunjungan wisatawan ke Jeju, dan sekarang sudah terbang ke Tiongkok, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand, Hongkong, Taiwan, dan Guam.

Di Filipina yang paling dekat dengan Manado, mereka bermitra dengan Cebu Air, maskapai lokal Filipina. “Kalau kami dibantu untuk izin terbang, dan mitra sesama LCC, seperti Lion, kami tertarik mengembangkan penerbangan ke Manado,” ungkap Ken Choi.

Manado bisa menjadi pintu bagi wisman Korsel yang diangkut oleh Jeju Air ini untuk menyebar ke destinasi lain di Indonesia. Cukup dengan penerbangan domestik. Jeju Air bermarkas di Jeju City, dan terbang ke Seoul mendarat ke Gimpo International Airport.

Dari Jeju ke Filipina itu sekitar 4 jam, dan jika dilanjut ke Manado, mungkin hanya 5 jam. Masih masuk akal untuk penerbangan langsung. “Oke, kami akan bantu dan follow updari dua persoalan itu,” jawab Arief Yahya.

Terbang ke Lombok

Pertemuan kedua dengan airlines dengan Jin Air Co Ltd, yakni maskapai LCC juga yang merupakan anak perusahaan Korean Air. Sebelumnya Jin Air bernama Air Korea dan berdiri tahun 2008 lalu hanya melayani rute regional di Korea saja.

Pada Oktober 2009, Jin Air mulai terbang ke Makau, Guam dan Bangkok. “Sekarang kami juga terbang ke Honolulu, Hawaii, Phuket, Kinabalu, Laos, dan Filipina,” ujar Lee Kuang, Vice President Jin Air. Jin Air malah tertarik untuk terbang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Lombok merupakan salah satu dari 10 destinasi prioritas yang sedang dibangun cepat oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Persoalannya juga sama dengan Jeju Air, soal izin untuk mendarat ke Lombok tersebut.

“Selain itu, kami harus berpromosi bersama dengan Kemenpar untuk menjual paket wisata dengan tujuan Lombok Indonesia,” kata Lee Kuang. AY, sapaan akrab Menteri Pariwisata menyanggupi dua hal itu, yakni membantu mempercepat pengurusan izin mendarat dan beroperasi di Indonesia juga bersama mempromosikan paket terbang ke Indonesia.

“Saya juga mau Jin Air juga terbang ke Manado, sehingga ibu kota Sulawesi Utara itu semakin hidup pariwisatanya,” ungkapnya. AY memaparkan pentingnya rumus 3A yakni Atraksi, Akses dan Amenitas.

Mengenai Atraksi, Arief Yahya yakin potensi Indonesia dan di semua daerah itu bagus. Dari soal culture, nature dan man made-nya bisa diandalkan. Tetapi soal akses, itu tidak bisa diabaikan. “Sebaik, seindah, sesempurna apa pun, kalau tidak ada ‘jembatan masuk’, terus mau lewat mana wisman itu datang,” katanya.

“Kita baru sadar kan? Kalau akses dari Korsel ke Indonesia itu sangat minim? Tidak ada LCC, penerbangan yang murah meriah tetapi tetap aman. Bagaimana mau mendapat jumlah wisman banyak kalau aksesnya minim dan mahal,” ujarnya.

Bahkan disebut paket ke Bali itu jauh lebih mahal daripada paket wisata ke Hawaii dari Seoul. Sedangkan A ketiga, lanjutnya adalah Amenitas. Sebuah destinasi tanpa didukung amenitas, seperti hotel, homestay, convention, restoran, kafe, transportasi lokal, mal, toko suvenir, dan lainnya juga tidak menarik wisatawan.

“Fasilitas ini juga harus ada, dan siap untuk membuat destinasi itu kuat. Tiga A itu adalah kebutuhan dasar sebuah destinasi itu akan hidup. Karena itu, harus dikejar dan dikebut terus,” tambah Arief Yahya. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

World Heritage

2017, Festival Bahari Digelar di Badung

Ilustrasi wisatawan asing di Bali (Ist) Meski Pulau Dewata sudah terkenal, pemerintah kabupaten Badung, Bali berencana menyelenggarakan Festival Bahari untuk kali pertama pada tahun depan. Hal itu disampaikan Bupati Badung

Destinations

Akses ke Danau Toba Dipermudah untuk Wisatawan

Danau Toba (Ist) Angin segar datang dari Danau Toba Sumatera Utara. Tidak lama lagi, diperkirakan akhir tahun ini, tol dari Medan-Kuala Namu ke Tebing Tinggi sudah bisa dilewati. Tentunya itu

Heritage

Workshop Fotografi untuk Anak Kepulauan Seribu

Berita Foto: Workshop fotografi untuk anak-anak di Kepulauan Seribu ternyata diminati anak-anak dari Pulau Harapan, Pulau Kelapa, dan Pulau Kelapa 2, Jumat (20/5/2016). Kegiatan positif ini didukung oleh berbagai pihak,

Slideshow

WKB Kian Diminati Masyarakat

  Kuliner khas di WKB (Ist) Keberadaan Warteg Kharisma Bahari (WKB) semakin diminati masyarakat. Kuliner khas Tegal, Jawa Tengah ini buktinya disukai etnis lain, seperti dari Sumatera Utara dan Sumatera

SightSeeing

CRAFINA 2015 ‘From Natural Resources to Creative Products for Lifestyle’

Lindy Ann (tengah) ikut CRAFINA 2015 (Ist) CRAFINA 2015 kembali hadir di tengah lajunya pertumbuhan industri kreatif Indonesia sebagai ajang promosi dan pemasaran produk kreatif kerajinan hasil karya anak negeri.

Slideshow

Pilih Cidomo Atau Sepeda Keliling Gili Trawangan?

Wisatawan asing menyatu dengan masyarakat di Gili Trawangan, Lombok (Ist) Menikmati pesona destinasi wisata Lombok, Nusa Tenggara Barat tak salah jika wisatawan menyempatkan berkunjung ke Gili Trawangan. Ya, selama ini Gili