Kearifan Lokal Pahawang Pikat Wisatawan

Rumah-rumah di Pulau Pahawang sudah semakin jarang yang menggunakan blarak padahal daun kelapa berlimpah (Ist)

Tangan kanan Sugiharti mengenggam celurit. Tangan kirinya memegang batang pohon kelapa. Sekali ayun, belasan daun kelapa kering lepas dari pangkalnya. Tak ada kekhawatiran tangannya terluka. Perempuan berusia 45 tahun ini memang sudah biasa menggunakan benda tajam itu.

Sementara Nani (55), rekannya duduk di depan. Dia memunguti daun-daun kelapa kering yang dipangkas Sugiharti. Sembari berbincang tentang berbagai masalah keluarga, mereka terus bekerja. Sinar mentari tak terasa menyengat sebab rerimbunan pohon kelapa di Pulau Pahawang, Lampung melindungi mereka pada Sabtu, (26/5/2018).

Setelah daun kelapa kering semakin banyak, Nani mengikat menjadi satu. Siang itu, mereka sudah menghasilkan 3 ikat daun kelapa sebesar pelukan orang dewasa. “Daun ini buat bikin blarak. Blarak itu atep rumah dari daun kelapa,” jelas Sugiharti.

Blarak dari bahasa Jawa. Artinya daun kelapa kering. Memang banyak penduduk Pahawang yang berasal dari Pulau Jawa. Sebagian besar bekerja sebagai petani atau nelayan. Blarak yang dimaksud Sugiharti adalah daun kelapa yang dikeringkan kemudian dianyam menjadi atap rumah.

Menampung Wisatawan

Pahawang adalah salah satu pulau di Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Untuk mencapai pulau yang menjadi tujuan wisata di Lampung bagian selatan ini, pengunjung dapat menggunakan perahu bermotor dari Dermaga Ketapang. Perjalanan yang harus ditempuh sekitar satu jam.

Sejak zaman penjajahan Belanda, Pahawang sudah dihuni oleh masyarakat. Kebanyakan dari Banten dan Jawa Barat. Beberapa tahun belakangan ini Pulau Pahawang sudah tidak sesepi dulu lagi. Pulau yang luasnya sekitar 1.000 hektar kini dihuni sekitar 700 penduduk.

Sarana pendidikan dari SD hingga SMA pun telah tersedia. Sementara sebuah puskesmas juga melayani masyarakat yang membutuhkan. “Waktu saya kecil masih dikit penduduk di sini. Saya lahir dan besar di sini karena dulu bapak saya bekerja nanem cengkih dan kelapa. Lalu menikah, terus tinggal di sini,” ujar perempuan yang leluhurnya dari Serang, Banten ini.

Pulau yang banyak tumbuh pohon kelapa ini lima tahun belakangan sudah ramai dikunjungi para wisatawan. Keindahan pantai dan panorama dasar lautnya menjadikan Pahawang sebagai salah satu tujuan wisata domestik. Setiap liburan akhir pekan atau libur nasional, banyak wisatawan yang berkunjung.

Rumah-rumah penduduk pun disulap untuk menampung wisatawan yang berdatangan.

 Kearifan Lokal

Pembuatan blarak melalui proses cukup panjang. Mula-mula Sugiharti dan Nani memungut dahan kelapa kering yang jatuh. Setelah itu mereka merendamnya di air laut selama satu malam. Kemudian diangkat dan dibawa ke tepi pantai untuk memisahkan daun kelapa dari batangnya.

“Kita rendem di laut supaya ulat dan binatang-binatang yang nempel pada mati,” tambah Sugiharti. Proses perendaman dengan air laut juga berguna agar blarak lebih tahan lama. Daun kelapa yang masih hijau dapat juga dibuat untuk atap rumah.

Namun, daya tahannya tidak sekuat daun kelapa kering yang telah direndam dalam air laut. Daun-daun kelapa itu kemudian dianyam dengan batang kelapa sebagai pangkalnya. Sugiharti dan Nani menganyam dengan rapat agar tidak ada celah untuk cahaya dan air ketika dijadikan atap rumah.

Ukuran anyaman yang mereka gunakan bukan meteran. Melainkan kedua tangan yang dibentang lebar-lebar sebanyak dua kali. Satu anyaman blarak dihargai Rp3.000. Untuk satu atap rumah dibutuhkan puluhan atau ratusan anyaman blarak, tergantung lebar atap.

Pengerjaannya membutuhkan beberapa minggu. Nani ingat waktu masih kecil, dinding rumah-rumah di Pahawang terbuat dari anyaman bambu. Atapnya masih dari blarak. Kini rumah-rumah di Pulau Pahawang sudah menggunakan tembok semen.

Atapnya pun sudah jarang yang menggunakan blarak. Sebagian besar memakai atap seng atau asbes. Padahal atap dari daun kelapa kering ini memiliki keunggulan tersendiri. Selain harganya lebih mahal, asbes atau seng harus didatangkan dari Bandar Lampung dengan menggunakan perahu.

Sementara blarak dapat dibuat sendiri oleh penduduk karena pohon kelapa sangat berlimpah. “Kita buat blarak kalau ada yang pesen. Biasanya buat villa atau rumah orang-orang sini yang pengen pake blarak. Kita belajar dari orangtua”.

Memang kelemahan blarak juga ada. Setiap tiga atau lima tahun sekali harus diganti karena sudah lapuk. Penggunaan atap seng atau asbes bisa lebih lama. Namun kelebihan blarak adalah mampu menahan panas dibandingkan dengan asbes atau seng. “Kalau pakai blarak siang nggak kepanasan. Kalau pakai asbes atau seng, siang-siang panas banget”.

Para turis sebenarnya ingin berleha-leha di dalam tempat penginapan usai bermain di pantai atau menyelam. Sayangnya, tidak banyak rumah yang menggunakan blarak lagi. Mereka pun harus rela bermandi keringat bila beristirahat dalam rumah sebab blarak sudah mulai jarang dipakai lagi. Sebuah kearifan lokal yang makin ditinggalkan. (A Bobby Pr adalah penulis buku biografi. Jalan-jalan adalah hobi penulis buku biografi ini. Lewat hobi ini, Bobby bisa bercengkrama dan menimba pengetahuan dari orang-orang yang ditemui. Buku biografi yang pernah ditulis antara lain kisah Romo Casutt SJ (Direktur ATMI Solo), H Adi Andojo Sutjipto (hakim agung MA), Ajik Cok (pemilik toko oleh-oleh Krisna Bali), Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan), dan lainnya)

About author



You might also like

Airlines

Project Kemanusiaan Mengantar EXO Travel Raih PATA Gold Awards 2016

PATA Gold Awards 2016 (Ist) EXO Travel Group yang berkantor pusat di Thailand dalam penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 di venue Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD City, Banten pada

Festival

Kemenpar Dukung Promosi GMT 2016 di Palu

Jembatan ‘Kuning’ Ponulele di Palu (Ist) Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan dukungan dalam bentuk promosi gerhana matahari total (GMT) 2016 mendatang di Palu, Sulawesi Tengah. “Kementerian Pariwisata mendukung

Destinations

Dukung Wisata Bahari di Indonesia, Pelindo III Bangun Marina di Pantai Boom Banyuwangi

Manajemen PT Pelindo III menyatakan komitmen penuh untuk ikut mengembangkan wisata bahari di Tanah Air sebagai upaya mendukung upaya pemerintah yang tengah bekerja keras merealisasikan target Presiden Jokowi bisa mendatangkan

All About Indonesia

Folk n Vogue: 100% Indonesia

Lindy Ann Umarhadi (Ist) Sebagai upaya mendukung industri kreatif dalam negeri, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) akan mengadakan pameran bertajuk ‘Folk n Vogue: 100% Indonesia’ pada 7-11 September

Slideshow

21 Oktober, Sriwijaya Air Terbang ke Raja Ampat

Keinginan wisatawan Nusantara untuk mengunjungi tempat-tempat wisata berskala internasional di Papua akan semakin mudah. Pasalnya mulai 21 Oktober mendatang, Sriwijaya Air Group (Sriwijaya Air dan NAM Air) akan membuka rute

Travel Operator

Bromo Memukau Wisman di Hari Raya Yadnya Kasada 2017

Bromo (Ist) Peringatan Yadnya Kasada 2017 di Gunung Bromo Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur sangat berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah daerah setempat menggelar pra-event bernama Eksotika Bromo pada 7 hingga 8