Kenapa Melancong ke Indonesia Timur Lebih Mahal?

Komodo_Dragon

Komodo di Pulau Komodo (Ist)

Selama ini sudah bukan rahasia lagi, wisatawan harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal ketika memilih jalan-jalan ke Indonesia bagian timur.

Sebut saja seperti ke Papua atau ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai contoh ke NTT ongkosnya jauh lebih mahal ketimbang ke Thailand.

Padahal, di kawasan Indonesia timur banyak destinasi yang menarik yang bisa ditawarkan kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Rp4 hingga 5 juta bisa buat seminggu kita ke Thailand. Ke Labuan Bajo di NTT saja tidak cukup,” ujar Kepala Dinas Pariwisata NTT Marius Ardu Jelamu dalam launching Festival Teluk Maumere di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (9/8/2016).

Marius menambahkan, tiket pesawat sekali terbang ke Labuan Bajo saja sudah mencapai Rp1 juta lebih. Belum lagi biaya untuk hotel, makan dan wisata.

Maka tak heran jika biaya jalan-jalan ke negeri tetangga, seperti Singapura dan Thailand lebih terjangkau ketimbang melancong ke NTT.

Mengapa bisa seperti itu? “Ada banyak masalah dan keterbatasan pembangunan,” kata Marius. Memang terkesan terjadi ketimpangan pembangunan di kawasan Indonesia timur dengan wilayah Indonesia bagian barat.

Padahal, NTT dikenal punya banyak destinasi seperti Labuan Bajo, Pulau Komodo, Ende, Maumere, Larantuka, Alor dan Kupang. Untuk masalah pesawat, baru beberapa maskapai penerbangan saja yang tertarik terbang langsung ke Labuan Bajo dan Kupang, seperti Garuda Indonesia.

Sisanya harus transit dulu di Bali atau Makassar yang bikin harganya lebih mahal. Bisa dibilang masalah utamanya adalah di tiket pesawat.

Tak banyak pula, pesawat-pesawat yang terbang ke NTT menebar diskon. Hal ini berbanding terbalik dengan maskapai-maskapai yang terbang ke Singapura atau Thailand yang kerap kali memberi diskon gila-gilaan.

“Kita kesulitan dalam mengangkut wisatawan,” keluh Marius. Faktor lainnya adalah SDM pariwisata di NTT. Tentu saja, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pemerintah provinsi NTT agar masyarakat di sana makin terbuka dan ramah sehingga membuat wisatawan betah, nyaman dan mau kembali lagi.

“Kami terus berusaha agar masyarakat akrab dengan pariwisata,” ucapnya. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Culture

‘Pantai Indonesia Lebih Bagus’

Destinasi wisata bahari di Samber Gelap, Korabaru, Kalimantan Selatan (Ist) Wisata bahari yang menjadi andalan pemerintah sebagai upaya merealisasikan target Presiden Jokowi mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia

Hotel

Bos Jababeka Tertarik Investasi di Ende untuk Kembangkan Pariwisata

Ende di Flores yang begitu indah (Ist) Pendiri dan Chairman PT Jababeka Tbk SD Darmono mengunjungi Kabupaten Ende, Flores dalam rangka peluncuran buku ‘Building A Ship While Sailing’ di Universitas

Nature

2016 Traveling Keliling Indonesia

Diving, wisata bahari di Tanjung Lesung (Ist) Kendati krisis global, ancaman terorisme, dan masih timbul segudang pertanyaan mengenai keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan banyak orang untuk tidak bepergian jauh lagi. Banyak

Tourism

Menteri Pariwasata Gandeng Menteri Perhubungan Majukan Pariwisata Belitong

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) dan Menteri Perhubungan Arief Yahya (Ist) Ketika dua menteri Kabinet Kerja kompak, keputusan cepat dan revolusioner membangun pariwisata Indonesi. Itulah yang terjadi pada Bandara

Slideshow

Sambut Idul Fitri 1437 H, Pelindo III Siap Layani Pemudik

Logo PT Pelindo III (Ist) Menjelang arus mudik Lebaran 2016, manajemen PT Pelindo III sudah mulai menyiapkan fasilitas pendukung di 13 terminal penumpang yang dioperasikan demi mendukung kelancaran transportasi, termasuk

Slideshow

Indonesia Gandeng Tiongkok Kembangkan Pariwisata

Menteri Pariwisata Arief Yahya foto bersama Chairman CNTA Li Jinzao beserta jajarannya dalam China International Travel Market (CITM) 2016 di Shanghai New International Expo Centre, Tiongkok 11-13 November 2016 (Ist)