Kondisi Kerusakan Laut Masih Bisa Diperbaiki

pata sama wwf

President/CEO PATA Indonesia Poernomo Siswoprasetijo (batik biru) hadir dalam MoU Signing Blue (Ist)

Kawasan perairan Indonesia selama ini masih menjadi target utama para pelaku penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun lalu mencatat kerugian negara akibat tindakan illegal fishing diperkirakan melebihi Rp101 triliun per tahunnya.

Tingkat kerugian tersebut sekitar 25 persen dari total potensi perikanan yang dimiliki Indonesia sebesar 1,6 juta ton per tahun. Potensi laut dunia, termasuk Indonesia dihadapkan pada tantangan terbesar dari praktik illegal fishing serta praktik kepariwisataan bahari yang belum mengikuti kaidah konservasi yang mengakibatkan kerugian besar ekonomi dan mengancam keanekaragaman hayati laut.

Selain eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan, perubahan iklim dan perusakan habitat laut menjadi ancaman serius khususnya bagi mereka yang hidup pada garis kemiskinan yang bergantung kehidupannya pada sumber daya laut.

Berdasarkan analisa dari sampel global lebih dari 1200 spesies laut, tidak hanya ikan, diperkirakan penurunan setengah dari populasi laut terjadi sejak 1970 silam hingga 2012 lalu. Terumbu karang bahkan diprediksi bisa punah pada 2050 mendatang sebagai dampak dari perubahan iklim.

Padahal sedikitnya 25 persen dari semua populasi spesies laut dan setidaknya 850 juta orang bergantung langsung kepada jasa ekonomi, sosial dan budaya yang disediakan terumbu karang. Temuan ini berdasar pada analisis peneliti di Zoological Society of London (ZSL) atas data statistik yang sebelumnya dilaporkan dalam WWF Living Planet Report 2014.

Meski demikian, Living Blue Planet Report yang dirilis WWF pada Rabu (16/9/2015) menyatakan bahwa kondisi laut beserta sumber dayanya yang terus menurun dalam beberapa dekade terakhir dapat diperbaiki untuk kembali pada tingkat kelestarian yang mampu menopang kehidupan manusia.

Living Blue Planet Report diterbitkan untuk memberikan gambaran terkini dari keadaan laut,” kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal WWF Internasional.

“Dalam kurun waktu satu generasi, aktivitas manusia telah menimbulkan kerusakan parah pada laut dengan menangkap ikan pada laju yang lebih cepat daripada siklus reproduksinya, sementara itu praktek penangkapan dan pembangunan pesisir juga menghancurkan tempat mereka untuk berkembangbiak. Perubahan besar diperlukan untuk memastikan kehidupan laut yang tetap melimpah untuk generasi mendatang”.

CEO WWF Indonesia Efransjah mengatakan, “Living Blue Planet Reportharus dibaca sebagai upaya WWF untuk menawarkan solusi untuk membawa keluar laut dari kondisi yang terus menurun. Kita beruntung karena masih memiliki kesempatan untuk memutar balik keadaan dan memperbaiki kerusakan yang ada”.

Efransjah melanjutkan, “Perubahan mendasar yang dibutuhkan adalah mengubah pola hidup kita kepada batas daya dukung laut sehingga laut bisa menjamin ketahanan pangan, menjadi sumber penghidupan, mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga keseimbangan ekosistem global. Selain sektor perikanan, laut juga menggerakkan berbagai sektor ekonomi lainnya seperti industri pariwisata”.

Data World Travel Monitoring Forum menunjukkan industri kepariwisataan Indonesia masuk dalam 13 negara yang mengalami pertumbuhan pariwisata tercepat di dunia.

Tahun 2014, industri pariwisata Indonesia tumbuh 7,2 %, setara dengan jumlah kunjungan 9,4 juta wisatawan mancanegara. Dalam skala bentang laut seperti Coral Triangle, industri pariwisata bahkan berkontribusi USD 1,2 juta dan berpeluang tumbuh lebih besar.

Pertumbuhan industri pariwisata, seperti halnya usaha-usaha di bidang perikanan, memiliki risiko yang mengancam kelestarian laut. Tekanan terjadi melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas serta pemenuhan kebutuhan bahan baku untuk kepariwisataan.

Aktivitas pariwisata juga berdampak pada sumber daya air, udara, mineral dan masyarakat lokal jika tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, WWF menginisiasi program SIGNING BLUE sebagai inovasi dan wadah bagi penyedia jasa pariwisata dan wisatawan untuk ikut serta melindungi sumber daya alam.

SIGNING BLUE mendorong pemerintah, pelaku bisnis dan masyarakat untuk bisa memanfaatkan sekaligus mengamankan laut yang menghidupi. Ini adalah salah satu pendekatan dari konsep WWF ‘Perspektif Satu Planet’.

Langkah-langkah penting untuk melestarikan sumber daya laut utamanya melalui konsumsi yang lebih bijak dan mengutamakan keberlanjutan. Penelitian WWF lainnya di awal tahun ini, menemukan bahwa dari setiap dolar yang diinvestasikan untuk menciptakan kawasan konservasi laut dapat menghasilkan manfaat tiga kali lipat melalui penyediaan lapangan kerja, perlindungan pesisir, dan perikanan.

Diperkirakan juga peningkatan perlindungan terhadap habitat-habitat kritis dapat menghasilkan manfaat bersih antara US$490 miliar dan US$920 miliar selama kurun 2015-2050. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Slideshow

Pelindo III Gandeng PGN Garap Bisnis Gas di Pelabuhan

Direktur Utama PT Pelindo III dengan Director of Commerce PGN (Ist) PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sepakat untuk melakukan kerja sama terkait dengan

Destinations

Kunjungi Festival Pesona Cirebon

Festival Pesona Cirebon (Ist) Festival Pesona Cirebon diselenggarakan pada 31 Maret hingga 2 April mendatang oleh Keraton Kasepuhan dan Pemerintah Cirebon, Jawa Barat. Acara ini merupakan awal mula deklarasi Cirebon

Hotel

Raja Salman Perpanjang Libur Tiga Hari di Bali

Raja Salman (Ist) Kabar Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud memperpanjang masa liburannya di Bali telah sampai ke Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menurut Arief, keputusan Raja Salman memperpanjang

Travel Operator

Turis Timur Tengah Suka Traveling ke Bogor

Festival Pesona Kabupaten Bogor 2017 (Ist) Wisatawan asing dari kawasan Timur Tengah diketahui suka traveling ke sejumlah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hal tersebut dikatakan Kepala

Airlines

Optimistis Pariwisata Indonesia Menyambut 2017

Menteri Pariwisata Arief Yahya (Ist) Menteri Pariwisata Arief Yahya menggelar Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2016 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata Jakarta, Rabu (21/12/2016). Menpar

Destinations

Go Digital, Raja Ampat Sambut 18 Titik Operator Telkomsel

Menteri Pariwisata Arief Yahya (Ist) Go Digital be The Best! Itu bukan sekadar tagline untuk memperkuat branding. Go Digital itu semacam keniscayaan yang cepat atau lambat, disadari atau tidak, dicintai