Konsekuensi Memaknai Hukum Sebatas Teks

Pereddi Sihombing (Ist)

Akhir-akhir ini kita selalu diperhadapkan dengan fenomena penegakan hukum yang menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat luas, terkhusus di kalangan para ahli hukum. Penegakan hukum yang mengundang perdebatan serius tersebut tak heran menimbulkan pertanyaan apakah hukum sedemikian menakutkannya?

Hal ini penting mengingat perilaku sosial masyarakat ketika diperhadapkan dengan penegakan hukum mengundang ketakutan karena konsekuensi pertanggungjawaban pidana yang menanti, disinilah kehadiran hukum berubah makna menjadi hukum yang menakutkan bagi masyarakat.

Hukum tidak lagi hadir sebagaimana seharusnya hukum memberikan rasa keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Masyarakat kita sering disuguhi penegakan hukum yang jika ditelaah dan dianalisa secara yuridis justru sebenarnya kontra produktif penegakannya.

Tidak tertutup kemungkinan penguasaan untuk menelaah persoalan dari penegak hukum yang menjadi sumber permasalahan, mengingat hukum itu kaku jika dibandingkan dengan fenomena kehidupan yang begitu kompleks dari hari ke hari.

Akhir-akhir ini kita kesulitan menemukan cara berpikir penegak hukum seperti mantan Hakim Agung Bismar Siregar yang mengatakan, “bila untuk menegakkan keadilan saya korbankan kepastian hukum, akan saya korbankan hukum itu. Hukum hanya sarana, sedangkan tujuannya adalah keadilan”.

Pemahaman demikian telah melampau dari cara berpikir kebanyakan penegak hukum kita, yang cenderung kaku dan kering argumentasi hukumnya yang hanya menitip beratkan cara berpikir positifistik teks. Bergesernya hukum dari yang seharusnya memberikan keadilan, kepastian, dan kemanfatan tersebut tidak lepas dari perilaku penegak hukum yang memaknai hukum hanya sebatas teks tersebut.

Pemaknaan demikian hanya sebatas pada pemenuhuhan isi hukum, yang tanpa melihat aspek penting yang dinamakan hakikat hukum. Seharusnya penegak hukum tidak hanya melihat hukum dalam arti positifistik semata dengan mengabaikan hakikat hukum itu.

Cara-cara demikian hanya membuat hukum menjadi tidak bermakna dan bernilai penegakannya. Kehadiran pengacara seharusnya bisa menjadi jembatan untuk mengembalikan kepercayaan penegakan hukum. Bahwasanya hukum senantiasa harus dapat hidup dan didialogkan dalam ruang-ruang sosial milik masyarakat.

Hanya dengan cara demikian saya kira hukum menjadi bermakna dan tidak menakutkan bagi masyarakat luas. (Penulis adalah Pereddi Sihombing yang adalah lulusan Cum Laude Program Pascasarjana Magister Hukum UKI Jakarta. Saat ini ia menjabat sebagai Managing Partners pada  Bins-Pereddi & Partners Law Office. Banyak menangani perkara pidana dan perdata diantaranya pernah menjadi kuasa hukum mantan Bupati Bangkalan dan mantan Kadis Pertambangan Prov Papua.)

 

About author



You might also like

Tour Package

Film Kepulauan Seribu akan Dipromosikan ke Mancanegara

Imelda Budiman (Ist) Mrs Indonesia World Imelda Budiman antusias mendukung promosi, tak ketinggalan sektor pariwisata di Kepulauan Seribu melalui film hingga ke mancanegara. Ia menjelaskan hal tersebut kepada patainanews.com di Jakarta

Hotel

Kejar Wisman Tiongkok di China International Travel Mart 2018

Menteri Pariwisata Arief Yahya (tiga dari kanan) (Ist) Jumlah wisatawan outbond asal Tiongkok sebesar 150 juta menjadi perhatian besar bagi Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Melihat potensi itu, Kemenpar dengan brand Wonderful

Tour Package

Keraton Kasepuhan Cirebon Diminati Wisatawan

Wisatawan di Keraton Kasepuhan Cirebon (Ist) Keraton Kasepuhan Cirebon adalah keraton tertua di Indonesia yang bangunan dan arsitekturnya masih asli dan berfungsi hingga sekarang sehingga tidak salah Keraton Kasepuhan Cirebon

Hotel

WPC Pastikan Ikut PATA Travel Mart 2017

PATA Travel Mart 2017 (Ist) Womanpreneur Community (WPC) memastikan ikut berpartisipasi dalam PATA Travel Mart 2017 di Makau. Adapun penyelenggaraan PATA Travel Travel Mart 2017 dimulai dari 13 hingga 15

Culture

2018, Desainer Cilik Akeyla Pertahankan Sinergi dengan Batik NengMas

Poetrie Hanjani, pemilik Batik NengMas dan desainer cilik yang tengah naik daun, Akeylanaraya Alyandina (Ist) Desainer cilik yang tengah naik daun, Akeylanaraya Alyandina akan meneruskan kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama ini

Indonesiaku

Belajar Media Sosial Bersama President University

Belajar media sosial yang positif (Ist) President University bersama detikcom akan menyelenggarakan acara bertajuk Social Media One Day. Sebuah acara yang akan membahas tentang media sosial dan seluk beluknya. Pada acara ini