Korsel Kritik Menteri Pariwisata untuk Majukan Pariwisata Indonesia

korsel
Foto bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama delegasi Indonesia, termasuk Presiden Direktur PT Jababeka Tbk Budianto Liman (keempat dari kiri) dengan Minister of Culture, Sports and Tourism of Republic of Korea HE Mr Kim Jongdeok dan delegasi Korea Selatan yang menghasilkan kesepakatan Korsel mendukung perkembangan pariwisata Indonesia, khususnya destinasi wisata Tanjung Lesung dengan investasi senilai USD 500 juta (Ist)
Dua wholeselers travel operator dan travel agent terbesar di Korea Selatan (Korsel) terang-terangan mengutarakan kritiknya soal titik lemah pariwisata Indonesia.
Mereka tidak terlihat basa basi bertestimoni di depan Menteri Pariwisata Arief Yahya dan tim di Seoul. Keduanya adalah Hana Tour yang memiliki market share hampir 20 persen dari outbond Korsel yang hampir 20 juta itu.
Persisnya 19.310.430 orang Korsel jalan-jalan liburan ke luar negeri. Satu lagi adalah Modetour International yang mengelola 1,8 juta wisatawan dari Korsel keluar dari negara.
Adapun Modetour memiliki lebih dari 1.250 tenaga kerja untuk meng-handle outbond Korsel itu dan memperoleh penghargaan nomor 1 Chinesse Inbound Tour 2012, Prime Minister’s Citation Award 2012 dan $2.000 Gold Tower of Tourism Promotion Award 2012. 
Apa kritik mereka? “Orang Korea belum banyak yang tahu Indonesia selain Bali! Kami bahkan tidak tahu Borobudur ada di mana? Apa menariknya?” kata Mr Hong Ki Jung, Vice Chairman of Mode Tour, yang dibenarkan Mr Kim Jin Young, Manager of Mode Tour dan Mr Yoon Ju Young, Deputy Manager Mode Tour dalam siaran pers yang diterima patainanews.com pada akhir pekan lalu. 
Statement yang sama juga keluar dari Mr Kim Jim Kook Presiden Hana Tour dan Mr KimChang Hum, GM Hana Tour dan Mr Joo Nan Soo.
Kritik itu membuat Arief Yahya, Deputi I Gde Pitana, Dubes  John Prasetio, Wakil Dubes Cecep Herawan, Asdep Vincensius Jemadu yang berada di ruangan itu hanya bisa bengong. 
Promosi ke Korsel harus lebih tajam menukik dan lebih gencar lagi. Lalu apa solusi menurut mereka? Dua perusahaan terbesar di Korea itu punya saran yang sama, yakni Familiarization Trip atau Famtrip!
“Ajak para tour travel, jurnalis atau media massa, penulis Korea berjalan-jalan ke berbagai destinasi yang ada di Indonesia, termasuk Borobudur, dan 10 destinasi baru yang sudah siap dipasarkan,” ungkap Mr Kim Chang Hun. 
Menurut Kim Chung, selain Bali yang sudah terdengar di Korsel adalah Batam-Bintan di Provinsi Kepulauan Riau. Lalu apa lagi? “Tidak ada cara yang lain, kecuali promosi dan marketing! Melalui berbagai media dan event di Korea,” ungkapnya.
Dia memberi contoh Taiwan yang saat ini semakin gencar berpromosi di Korsel. Dia berharap ke depan Wonderful Indonsia bisa joint promotion dengan mereka. 
Kritik lain adalah harga paket wisata ke Indonesia yang terlalu mahal. “Ke Honolulu Hawai di Pasifik sana jauh lebih murah dibandingkan ke Bali. Begitu pun ke Thailand, Filipina dan Kamboja. Karena Korean Air dan Garuda Indonesia yang terbang ke Korea juga masih full service, belum ada penerbangan LCC, low cost carrier yang membuat harga paket lebih murah,” keluh Mr Hong Ki Jung. 
Mengenai bahasa, Hong Ki Jung juga menyarankan ada orang Korsel yang bukan hanya mengerti bahasa tapi juga memahami adat kebiasaan dan perilaku mereka.
Mengapa begitu? “Banyak sekali keluhan seperti itu, bahasa mungkin paham, tapi pariwisata itu kan tidak sekadar bahasa tapi lebih ke hospitality,” kata Mr Yoon Ju Young, salah satu Deputy Manajer Moda Tour. 
Dia juga menyarankan agar Indonesia punya kantor perwakilan di Seoul, bukan di Busan, kota kedua Korsel. Lalu jurus yang bisa membuat lebih booming, kata mereka adalah membuat film dengan artis populer dari Korsel dengan mengambil setting di destinasi wisata di Indonesia.
“Salah satu kunci sukses Korea adalah film itu”. Menpar Arief Yahya mendengar dengan seksama keluhan mereka. Saat bertemu dengan sekitar 12 perusahaan tour agency dan tour operator, Jumat 3 Juni 2016, dia juga mendapatkan keluhan yang mirip dengan dua wholeselers yang sudah one on one meeting itu. “Oke saya sudah catat, ada 3 hal yang harus ditindaklanjuti,” ungkap Arief Yahya.
Pertama, solusi untuk kemahalan adalah segera membuka LCC, penerbangan murah dari Seoul ke Indonesia. Bisa via Bali, Jakarta atau Manado. Ini akan ditindaklanjuti dengan Jeju Air, Jin Air dan Lion Air sebagai maskapai nasional yang bisa joint. “Ini akan menurunkan harga paket menjadi lebih kompetitif,” ungkap Arief Yahya. 
Kedua, membuat paket dengan menjadikan Singapura sebagai hub untuk destinasi Batam-Bintan. Bali sebagai hub pariwisata untuk didistribusikan ke banyak tempat lain di Indonesia.
Dan Jakarta sebagai hub untuk bisnis. Filipina yang hanya satu jam menuju Manado juga bisa dijadikan hub. “Paket ini juga akan lebih kompetitif, dan kami tidak ada masalah dengan Singapura-Batam-Bintan,” ungkap dia.
Ketiga adalah joint marketing atau marketing activities, seperti FamTrip. Ini akan segera dilakukan untuk mengenalkan ke jurnalis, tour operator, tour agency agar mereka memiliki gambaran dan pengalaman tentang destinasi Indonesia.
“Tiga jurus itulah yang akan dipakai untuk menggenjot pasar Korsel,” jelas Arief Yahya didampingi Asnawi Bahar, Ketua ASITA. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Destinations

Wisatawan Australia Apresiasi d’Praya Lombok Hotel

Yana (baju hitam) dan Emily dua gadis asal Melbourne, Australia didampingi LA Hadi Faishal, General Manager d’Praya Lombok Hotel (berdiri) yang sangat kagum dengan strategi ‘Wonderful Indonesia’ dibawah pimpinan Menteri

Culture

ICE Berbagi dengan Sesama

Buka puasa bersama ICE dengan panti asuhan (Ist) Indonesia Convention Exhibition (ICE) saat Ramadan 2016 ini mengadakan acara amal dengan memberikan santunan kepada tiga panti asuhan yang berada di wilayah

Indonesiaku

Pentingnya Sektor Maritim untuk Membangun Negeri

Presiden Jokowi mengedepankan untuk membangun sektor maritim dalam pembangunan nasional pada masa kepemimpinannya. Sektor maritim kini menjadi primadona pembangunan nasional, termasuk wisata bahari. Apalagi Presiden Joko Widodo pun memasang target

Slideshow

Laba Pelindo III Naik 172 Persen

Kegiatan di Terminal Teluk Lamong di Jawa Timur (Ist) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pelabuhan Indonesia III menunjukkan peningkatan kinerja perusahaan dari berbagai sisi pada akhir Triwulan III 2016. 

Destinations

PM Malaysia Najib Tun Razak Berlibur ke Bali

Bali punya magnet bagi wisatawan mancanegara (Ist) Tidak ada kata-kata lagi yang lebih dahsyat untuk mengungkapkan kehebatan Pulau Dewata, Bali. Setelah Raja Arab Saudi Salman Abdul Azis dan mantan Presiden

Heritage

FBC Dorong Pariwisata Cirebon Maju

Narasumber FBC berpose bersama (Ist)  Cirebon yang terletak di wilayah paling timur Jawa Barat ternyata memiliki banyak potensi wisata dan budaya yang bisa mendatangkan banyak wisatawan. Sebut saja Keraton Kasepuhan