Melestarikan Nilai yang Terkandung dalam Songket Palembang

Jual-songket-palembang-motif-lepus-maron-rakam-warna-2411ud2-

Songket Palembang (Ist)

Palembang di Sumatera Selatan tak hanya dikenal dengan kuliner khas, seperti Pempek dan destinasi Pulau Kemaro lantaran masih ada daya tarik bagi wisatawan, yakni songket.

Adapun songket warisan budaya yang terus dilestarikan di Bumi Sriwijaya. Tenun songket merupakan warisan budaya Palembang.

Ya, tenun songket Palembang diketahui sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Teknologi pembuatannya sebenarnya bukan murni berasal dari daerah tersebut, melainkan dari Tiongkok, India, dan Arab.

Adanya hubungan perdagangan antarbangsa dengan Kerajaan Sriwijaya menimbulkan akulturasi budaya. Salah satu unsur kebudayaan dari bangsa-bangsa asing yang diserap masyarakat Palembang adalah teknologi pembuatan kain tenun songket yang hingga kini masih dilestarikan warga Palembang.

Songket pada umumnya dipakai dalam upacara adat, baik perkawinan, menyambut tamu (pejabat) dan kegiatan-kegiatan tertentu lainnya karena songket ini merupakan jenis pakaian yang tinggi nilainya dan sangat dihargai masyarakat Palembang.

Pada masa Kerajaan Sriwijaya, kain songket Palembang tidak hanya diperdagangkan di daerah sekitarnya, di Sumatera saja, melainkan juga ke negeri orang, seperti Tiongkok, Siam, India, dan Arab.

Namun, saat terjadinya Revolusi Fisik di Indonesia pada 1945-1950 silam di Indonesia kerajinan songket di Palembang sempat terhenti karena tidak adanya bahan baku.

Sementara pada permulaan tahun 1960-an, tenun songket Palembang mengalami kemajuan yang pesat sebab pemerintah menyediakan dan mendatangkan bahan baku serta membantu pemasarannya.

Keberadaan kain songket di tengah masyarakat Melayu Palembang mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan, seperti nilai kesakralan, keindahan, ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.

Nilai kesakralan tercermin dari pemakaiannya yang umumnya hanya pada acara perkawinan, upacara menjemput tamu, dan sejenisnya.

Nilai keindahan terlihat dari motif ragam hiasnya yang memancarkan keindahan. Sedangkan nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan waktu yang lama sebab untuk proses pembuatan satu kain songket membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Sentra-sentra kerajinan tenun songket dalam masyarakat Melayu Palembang hingga saat ini masih tetap lestari. Guna melindungi kekhasan tenun songket Palembang, pemerintah daerah telah mengajukan 71 motif tradisional sebagai warisan budaya masyarakat (folklore).

Sebanyak 22 motif telah dipatenkan dan mendapat pengakuan dari Kementerian Hukum dan HAM, dan 49 motif masih menunggu. Beberapa motif yang telah diakui adalah motif bungo intan, lepus pulir, paku berkait, limar berantai, dan nampan emas.

Sebagai industri kreatif tentunya kerajinan pembuatan kain songket ini tidak terlepas dari tantangan globalisasi ekonomi. Menariknya di tengah gempuran globalisasi tersebut ternyata hingga saat ini songket bertahan sebagai salah satu warisan budaya Melayu Palembang.

Menghadapi globalisasi ekonomi, pengrajin songket Palembang harus mempertahankan kualitas dan ciri khas produksi songketnya.

Apalagi sudah ada 22 motif songket yang telah mendapat hak paten atau pengakuan dari Kementerian Hukum dan HAM. Dalam rangka menghadapi perdagangan bebas di era globalisasi ini perlu adanya inovasi yang dilakukan pengrajin kain tenun songket Palembang, baik dari segi ragam motif dan fungsi songket.

Perubahan itu mengarah pada kemajuan sehingga secara bertahap, pelan tapi pasti terjadi modernisasi. Pelestarian yang telah dilakukan sampai saat ini membuat kegunaan atau fungsi dari kain tenun songket menjadi semakin beragam.

Contoh songket sudah bisa digunakan sebagai aksen pada baju serta barang-barang lain yang terbuat dari songket, seperti wadah tisu, dompet, mainan kunci, pajangan dinding, taplak meja, dan sebagainya.

Tak hanya itu, kain tenun songket saat ini juga sudah mulai bertambah aksesorisnya dengan kombinasi-kombinasi yang menarik.

Sebagai contoh songket sudah bisa dikombinasi dengan bordir dan rumbai-rumbai. Perubahan yang terjadi pada ragam motif dan fungsi songket ini lantaran pengrajin songket melakukan inovasi, namun tetap menjaga keasrian dari songket itu sendiri.

Upaya pelestarian sangat baik guna mempertahankan eksistensi kain tenun songket di kalangan masyarakat serta perkembangan yang terjadi pada kain tenun songket sekarang ini cukup baik tanpa menghilangkan kesan khas dari kain tenun songket karena perkembangan ini merupakan hal baik dalam pelestarian budaya daerah Palembang. (Gabriel Bobby/berbagai sumber)

About author



You might also like

Culture

Rhino Cross Triathlon 2018 Resmi Diluncurkan

Peluncuran Rhino Cross Triathlon 2018 di Tanjung Lesung (Ist) Ajang kejuaraan terbuka cross triathlon pertama di Indonesia yang terdiri dari lomba berenang, balap sepeda dan lari melintasi keindahan dan tantangan

Slideshow

Genjot Investasi, Pemkab Pandeglang dan PT Jababeka Tbk Gelar Forum Bisnis KEK Tanjung Lesung

Tanjung Lesung Tourism Business Forum Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang bersama PT Banten West Java (BWJ) anak usaha dari PT Jababeka Tbk selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung kembali

Slideshow

Pelindo III Journalist Award 2016

Pelindo III Journalist Award 2016 (Ist) BUMN kepelabuhanan, PT Pelabuhan Indonesia III kembali menggelar ajang tahunan untuk mengapresiasi karya para jurnalis, Pelindo III Journalist Award 2016. Adapun karya-karya jurnalistik terbaik akan

Airlines

Sumbar yang Kaya Potensi Wisata Jadi Tuan Rumah HPN 2018

Menteri Pariwisata Arief Yahya (kanan) (Ist) Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut Sumatera Barat (Sumbar) kaya akan potensi wisata alam dengan ditambah masih kuatnya nilai adat leluhur yang dipegang masyarakatnya. “Sumatera

Destinations

ASITA DKI Jakarta Launching ASITA Jakarta Travel Mart 2016

Pengurus Baru ASITA DKI Jakarta (Ist) Sebagai upaya mempertemukan buyer dan seller di Indonesia dalam industri pariwisata nasional, maka DPD ASITA DKI Jakarta memperkenalkan ASITA Jakarta Travel Mart 2016. Launching

Tourism

Wisata Halal di Indonesia Bukan Sekadar Branding

Turis asing menyatu dengan warga setempat di Gili Trawangan, Lombok (Ist) Indonesia selama ini dikenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim sehingga harus bisa menjadi pelopor produk halal internasional karena