Menariknya Candi Sukuh untuk Wisatawan

candi-sukuh (1)

Indonesia selama ini dikenal memiliki kebudayaan dan peninggalan seni budaya yang beragam. Mulai dari seni bangunan, kriya, bahasa, norma kehidupan sosial, adat istiadat dan beragam seni budaya yang tak terhitung jumlahnya tersebar dari timur hingga barat wilayah NKRI.

Dan, Lebaran sebentar lagi. Libur panjang pun di depan mata. Beragam destinasi yang tersebar di negeri ini pun mulai menyiapkan diri menyambut kedatangan wisatawan.

Bagi yang masih belum punya ide untuk menghabiskan libur Idul Fitri 1436 H, ada pilihan menarik di Karanganyar, Jawa Tengah. Menurut Istar Yunianto, Staf Ahli Bupati Karanganyar ketika dihubungi patainanews.com belum ini, Candi Sukuh menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik dalam dan luar negeri.

Adapun kebudayaan dan peninggalan seni budaya tersebut mempunyai nilai yang tinggi dan beberapa diantaranya diakui oleh dunia sebagai warisan budaya asli ‘heritage of’ Indonesia.

Seni budaya yang masih banyak dijumpai di Indonesia antara lain bangunan candi, keris, wayang, seni pertunjukan tari tradisional, gamelan, ketoprak kemudian batik, topeng, adat kebiasaan seperti upacara-upacara ritual, dan lainnya.

Candi merupakan peninggalan budaya bangsa Indonesia yang memiliki nilai sejarah yang sangat berharga. Peninggalan candi banyak tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah terbanyak berada di Jawa.

Candi Borobudur dan Candi Prambanan adalah beberapa candi yang sangat dikenal, bahkan hingga ke mancanegara. Tidak hanya Candi Borobudur, Candi Prambanan dan beberapa candi besar lainnya, namun juga memiliki banyak candi yang berukuran lebih kecil dan memiliki ciri khas yang berbeda.

Candi dapat berupa bangunan kuil yang berdiri sendiri atau berkelompok. Bisa pula berupa bangunan berbentuk gapura beratap (Paduraksa) dan tidak beratap (Candi Bentar). Petirtaan yang dilengkapi kolam dan arca pancuran juga kerap disebut candi.

Candi yang berada di daerah lain seperti Sumatera Utara dikenal istilah ”biaro” dan di Jawa Timur istilah ‘cungkub’. Namun, masyarakat lebih mengenal istilah candi, apa pun jenis bangunan kuno termasuk reruntuhan serta di mana pun letak candi berada.

Kata ‘candi’ berasal dari salah satu nama yang diberikan kepada Dewi Durga, yakni permaisuri Dewa Siwa. Dewi Durga disimbolkan sebagai Dewi Maut  yang disebut dengan ‘candika’.

Istilah candi kemudian digunakan untuk menyebutkan bangunan peninggalan pada zaman Indonesia purba. Candi merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah ada di Indonesia, seperti Mataram Hindu, Singasari, Majapahit, dan Sriwijaya.

Candi Borobudur dan Candi Prambanan (Loro Jonggrang) adalah bukti-bukti kejayaan Kerajaan Mataram dari abad ke-8 hingga ke-11. Candi Singasari, Kidal, dan Jago merupakan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Singasari, dari abad ke-11 hingga ke-13.

Candi-candi di Indonesia umumnya bercirikan agama Budha (terutama aliran Mahayana dan Tantrayana) dan agama Hindu (terutama aliran Siwaisme). Candi bersifat Budha dikenal lewat arca Budha dan bentuk stupa, misalnya Borobudur dan Mendut.

Sementara Candi bersifat Hindu mempunyai arca-arca dewa-dewi di dalamnya, misalnya Prambanan dan Dieng. Uniknya, beberapa candi bersifat campuran Siwa-Budha, antara lain Singasari dan Jawi di Jawa Timur.

Situs Candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa tahun 1815 silam oleh Johnson, pada waktu itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java.

Mulai saat itu banyak kalangan sarjana mengadakan penelitian Candi Sukuh antara lain Dr Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr WF Stutterheim.

Lokasi Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian sekitar 1.186 m di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat.

Candi ini terletak di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini jaraknya sekitar 20 kilometer dari Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Di sekitar Candi Sukuh juga terdapat sebuah makam mantan Ibu Negara yakni makam Kalitan tempat disemayamkan Ibu Tien Soeharto. Jalan untuk mencapai lokasi Candi Sukuh mempunyai medan yang cukup terjal karena berada di atas sebuah bukit.

Namun, sekarang jalan menuju ke candi sudah diaspal cukup nyaman meskipun harus hati-hati karena terkadang ada kabut tebal yang mengurangi pandangan depan dan membuat jalan aspal semakin licin.

Bangunan Candi Sukuh memiliki ciri khas bentuk yang relatife sederhana dibandingkan dengan candi lain. Hiasan candi dan relief yang ada di candi Sukuh hanya sedikit dan tidak terlalu dekoratif.

Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya, yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Bahkan bentuk bangunan Candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi lain di Indonesia.

Struktur ini juga mirip dengan bentuk piramida di Mesir. Candi ini juga tergolong kontroversial karena adanya objek-objek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas.

Kesan kesederhanaan bentuk candi ini menurut arkeolog Belanda WF Stutterheim tahun 1930 silam ada tiga argumen, yakni pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton, kedua candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi, atau ketiga keadaan politik pada waktu itu menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit karena didesak oleh pasukan Islam Demak sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. (Gabriel Bobby)

 

 

About author



You might also like

Slideshow

‘Hidden Treasure of Art Deco: Sejarah Gedung Olveh Karya Firma Schoemaker dan Tantangan Revitalisasi’

‘Hidden Treasure of Art Deco: Sejarah Gedung Olveh Karya Firma Schoemaker dan Tantangan Revitalisasi’ (Ist) ‘Hidden Treasure of Art Deco: Sejarah Gedung Olveh Karya Firma Schoemaker dan Tantangan Revitalisasi’ yang

Heritage

Menteri Pariwisata Berikan Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016

Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 kepada para pemenang Kompetisi Pariwisata Halal Tingkat Nasional (KPHN) 2016 (Ist) Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memberikan penghargaan Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 kepada para

Cuisine

Keliling Indonesia Selama Long Weekend

Destinasi wisata bahari di Tanjung Lesung. Wisatawan bisa menikmati diving (Ist) Kabar gembira buat wisatawan, baik wisatawan domestik maupun turis asing lantaran di Indonesia akan ada libur panjang lantaran ada

Slideshow

Pariwisata Indonesia akan Berkembang Pesat dengan Mengangkat Cerita yang Ada di Daerah

Presiden Jokowi (Ist) Presiden Jokowi berharap keraton-keraton yang tersebar di Nusantara terlibat dalam pembangunan karakter bangsa. “Sehingga kita memiliki manusia-manusia yang berbudi luhur, dan tangguh serta inovatif dan kreatif,” ucap

Airlines

Arief Yahya Sarankan Aceh Ikuti Standar GMTI

Menteri Pariwisata Arief Yahya (Ist) Untuk mewujudkan mimpi Aceh menjadi destinasi wisata halal kelas dunia, maka Aceh harus mengikuti standar internasional. “Jika ingin menjadi pemain dunia, gunakan standar global,” saran

Hotel

ASITA Jakarta Dukung Target Kunjungan 15 Juta Wisman 2017

Danau Toba (Ist) DPD ASITA DKI Jakarta menilai perlu kerja keras, dan sinergi dalam upaya mendukung target kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2017 yang telah ditetapkan