Mengintip Fashion Show Batik di Beringharjo

tokoh batik jogja
Bincang Batik oleh Kampung Wisata Budaya Langenastran di Avocado Media Corner (Omah Media), Yogyakarta. Dari kiri ke kanan: Eddy Purjanto (Wakil Ketua Umum Kadin Yogyakarta), GBRAY Murdo Kusumo (pakar batik), GKBRAY A Paku Alam X (pakar batik) dan AM Putut Prabantoro (Moderator) (Ist)
GKBRAy A Paku Alam X, istri Wakil Gubernur DI Yogyakarta mendukung rencana pusat perbelanjaan Beringharjo untuk menggelar peragaan busana (fashion show) batik sebagai bentuk komitmennya pada pelestarian warisan budaya batik.
Adanya peragaan busana tersebut diharapkan para pedagang dan masyarakat bersama menjaga pelestarian dan sekaligus menjadikan Beringharjo sebagai destinasi wisata Batik.
Dukungan ini juga diberikan dengan menyadari dinobatkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Center pada 2014 silam di China.
 
Dukungan itu ditegaskan GKBRAy A Paku Alam X kepada Gunawan Nugroho Utomo, Kepala UPT Bisnis Beringharjo (Pengelola Pusat Perbelanjaan Beringharjo) yang menjadi narasumber dalam ‘Bincang Batik’ yang diselenggarakan di Avocado Media Corner (Omah Media), Yogyakarta, Rabu (5/10/2016).
 
Bincang Batik tersebut merupakan salah satu kegiatan yang digelar Kampung Wisata Budaya Langenastran, Yogyakarta yang mengangkat tema ‘Batik & Batok Night’ dengan puncak acara pada 15 Oktober mendatang.  
Hadir sebagai pembicara  adalah GBRAY Murdo Kusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, Eddy Purjanto Wakil Ketua Umum KADIN Yogyakarta Bidang Industri Kreatif, Jasa, Budaya dan acara dipandu AM Putut Prabantoro dari Avocado Media Corner.
 
“Saya mendukung Beringharjo mengadakan fashion show batik di tengah-tengah pasar. Ada dua hal yang bisa dicapai dengan fashion show tersebut yakni pelestarian batik oleh para pedagang dan masyarakat pembeli serta sekaligus menjadikan Beringharjo sebagai destinasi wisata batik. Kita semua memiliki tanggung jawab atas pelestarian warisan budaya leluhur,” ujar GKBRAy A Paku Alam X dalam siaran pers yang diterima patainanews.com, Kamis (6/10/2016).
 
Selain itu, GKBRAy A Paku Alam X yang juga seorang pembatik mengingatkan bahwa masyarakat yang tinggal di Yogyakarta juga memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.
Predikat itu dapat dipertanyakan lebih lanjut jika kelak kemudian ternyata, misalnya, masyarakat Yogyakarta tidak ada yang mengenakan batik lagi dan tidak ada pembatiknya.
Oleh karena itu ditegaskannya, Beringharjo harus memberi edukasi kepada masyarakat pedagang dan pembeli tentang eksistensi batik.
Menurut Eddy Purjanto, ada 7 kriteria  sehingga Yogyakarta disebut sebagai Kota Batik Dunia dan bukan kota lain.
Tujuh kriteria tersebut adalah nilai historis, orisinalitas, upaya pelestarian melalui regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional, serta persebarannya.
 
“Gelar sebagai Kota Batik Dunia hanya berlaku 4 tahun dan dapat dicabut jika  ketujuh kriteria itu tidak terpenuhi. Oleh sebab itu, adalah penting bagi masyarakat Yogyakarta memahami gelar tersebut dalam posisi percaturan batik dunia. Dulu pernah batik diklaim oleh Malaysia tetapi akhirnya tidak jadi karena tidak terpenuhi kriteria tersebut, “ ujar Eddy Purjanto yang juga Ketua Humas Yogyakarta International Batik Binalle.
 
Menurut Eddy, ada tiga jenis batik yang diketahui umum, yakni batik tulis, batik cap dan kain bermotifkan batik. Namun, yang dinamakan batik yang sesungguhnya adalah batik tulis yang memiliki seni tinggi dalam membuatnya.
Yang dinamakan batik bukan hanya motif tapi juga proses pembuatan, pembuatan motif dan  pewarnaan. Keprihatinan akan masa depan batik tulis diungkapkan GBRAy Murdo Kusumo yang menyatakan bahwa generasi saat ini yang berniat membatik sangat sedikit.  
Menurutnya, dengan alasan kepraktisan pembeli lebih cenderung memilik batik nontulis. Padahal dalam tradisi membatik, membuat motif itu harus mengerti dan memahami filosofi Jawa yang terkandung di dalamnya.  
 
Terkait dengan peletarian pembatik (regenrasi), baik GKBRAy A Paku Alam X dan GBRAy Murdo Kusumo membuka diri bagi siapa saja terutama generasi muda untuk belajar batik dari Pakualam ataupun dari Kraton Kasultanan. (Gabriel Bobby)
Caption Photo :
Bincang Batik oleh Kampung Wisata Budaya Langenastran di Avocado Media Corner (Omah Media), Yogyakarta Rabu (5/10). Dari kiri ke kanan : Eddy Purjanto (Wakil Ketua Umum Kadin Yogyakarta), GBRAY Murdo Kusumo (pakar batik), GKBRAY.A. Paku Alam X (pakar batik) dan AM Putut Prabantoro (Moderator).


About author



You might also like

Festival

Mongolian Culture Center Resmi Dibuka di Tanjung Lesung

Peresmian Mongolian Tourism Information Center di Menara Batavia, Selasa (25/4/2017) melanjutkan pembukaan Mongolian Culture Center di KEK Tanjung Lesung, Banten, Minggu (23/4/2017) (Ist) Manajemen PT Banten Tourism Development Corporation bekerja

Investments

Jababeka Bukukan Kinerja Kinclong di Kuartal II 2016

Jababeka (Ist) Bisnis properti dan kawasan industri yang sempat terperosok di tahun lalu kini mulai bangkit. Sinyal positif didorong adanya katalis positif yang bisa menyokong langkah bisnis tahun 2016 yang

Airlines

Hotel Santika Premiere ICE BSD City Semakin Siap Sambut PATA Travel Mart 2016

Sky Lounge 15 di Hotel Santika Premiere ICE BSD City (Ist) Hotel Santika Premiere ICE BSD City merupakan hotel berbintang 4 satu-satunya yang berada di area Indonesia Convention Exhibition (ICE)

Slideshow

Kuliah di President University, Casparina Mahir TI

Casparina Theresia Renwarin (Ist) Tidak banyak putra daerah yang ingin melihat dunia luar namun tidak demikian dengan Casparina Theresia Renwarin, gadis kelahiran tanah Papua. Ririn, begitu ia kerap disapa, di

Hotel

Menanti Wisatawan Australia Bertambah Banyak ke Indonesia

Berpose di IndoFest 2016 (Ist) Indonesia Festival atau yang biasa disebut IndoFest 2016 adalah salah satu cara menyapa warga Australia Selatan dengan budaya dan seni bernuansa Wonderful Indonesia. “Indofest adalah

SightSeeing

Kunjungan Wisman Januari-November 2016 Tumbuh 10,46%

Wisatawan mancanegara di Indonesia (Ist) Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada November 2016 mencapai 1.002.333 atau mengalami peningkatan sebesar 19,98% dibandingkan November 2015 berjumlah 835.408 wisman. Sementara secara