Menjaga Keseimbangan Ekosistem Wisata Bahari

Terumbu-Karang-Raja-Ampat

Terumbu Karang

Lebih dari 70 persen bagian bumi tertutup air. Dan, laut maupun samudra memainkan peran penting dalam menjaga iklim di bumi. Lautan menangkap CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil yang digunakan manusia.

Selama ini diketahui banyak hal yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan laut dalam menjaga keseimbangan iklim sehingga menimbulkan dampak negatif, yakni kerusakan terumbu karang, hilangnya hutan bakau, muncul limbah, dan perilaku yang tidak ramah lingkungan lain yang perlahan bisa saja mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Begitu pentingnya air, termasuk laut dan samudra yang ada di bumi ini, maka sudah seharusnya manusia menjaga. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan sekitar 70 persen terumbu karang di Indonesia dalam keadaan rusak.

“Saat ini kondisi terumbu karang yang masih baik hanya 30 persen, sedang sisanya 70 persen dalam kondisi rusak dan rusak berat,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Penyebab kerusakan terumbu karang, menurutnya, antara lain akibat penggunaan bom, potasium, dan sampah. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan masih sangat kurang.

“Aksi penyelamatan terumbu kerang diharapkan mampu menyelamatkan potensi kekayaan laut Indonesia,” katanya. Menteri Susi menegaskan, hal itu penting guna menjamin kelestarian dan keanekaragaman hayatinya untuk generasi saat ini dan mendatang.

Adapun Indonesia memiliki keanekaragaman terumbu karang yang sangat luar biasa sehingga dijuluki ‘Amazon of The Sea’. Terumbu karang di Indonesia tersebar hampir di 17.508 pulau.

Jika dihitung, luas tutupan terumbu karang di Indonesia mencapai 75 ribu kilometer persegi. Di kawasan konservasi perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, kini terdapat 296 jenis terumbu karang yang tersebar di daerah seluas 1.419 hektare.

Terumbu karang termasuk hewan yang hidup di lautan dangkal atau di kedalaman 25 sampai 100 meter. Hewan ini bisa hidup dengan suhu lingkungan 20-29 derajat.

Faktor lain penyebab kerusakan terumbu karang adalah perubahan suhu yang meningkat. Terumbu karang secara ekologis menjadi penunjang kehidupan biota laut lainnya, keanekaragaman hayati, dan pelindung pantai.

Secara ekonomi, terumbu karang juga menjadi sumber makanan, sumber obat-obatan dan kosmetik, obyek wisata, mata pencaharian, bibit budidaya, dan untuk riset.

Penting Ketika Menikmati Wisata Bahari

Terumbu karang merupakan potensi sumber daya laut yang sangat penting di Indonesia. Sumber daya terumbu karang merupakan salah satu sumber pendapatan utama dan bagian dari hidup nelayan.

Terumbu karang juga mempunyai nilai estetika sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang dapat meningkatkan devisa negara. Secara fisik terumbu karang melindungi pantai dari degradasi dan abrasi.

Disinyalir penggunaan pestisida yang berlebihan bisa membunuh organisme perairan serta menghambat perkembangan telur moluska dan ikan. Tak hanya itu, juga bisa menyebabkan kerusakan pada terumbu karang.

Kehidupan laut pun terpengaruh, khususnya hewan dan tumbuhan yang memiliki tulang karbonat kalsium dan yang menjadi sumber makanan bagi penghuni laut lainnya.

Karenanya diharapkan wisatawan menghindari pembelian cinderamata yang terbuat dari terumbu karang. Dan, penyu atau biota laut lainnya. Tak hanya itu, wisatawan tidak perlu menyentuh atau mengganggu biota laut saat snorkeling atau menyelam.

Mengurangi Sampah

Tak dapat dipungkiri negeri ini dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata bahari sehingga sektor pariwisata bahari bisa memberikan dampak positif lantaran menyumbang devisa hingga miliaran rupiah untuk Indonesia.

Kendati demikian, kunjungan wisatawan domestik maupun turis asing sepertinya tidak diiringi dengan sensitivitas menjaga kelestarian dan kearifan destinasi wisata tersebut.

Dan, permasalahan sampah disebut sebagai dampak yang tidak baik dalam kegiatan wisata bahari. Jika hal ini terus didiamkan, maka perlu diwaspadai dapat juga berpengaruh terhadap penurunan kunjungan ke destinasi wisata bahari yang ada di dalam negeri.

Untuk diketahui, sekitar 80 persen sampah di laut adalah plastik, massa plastik di lautan sebanyak 100 juta metrik ton sehingga wisatawan pun diharapkan berpartisipasi untuk tidak lagi menggunakan kemasan sekali pakai demi mengurangi aktivitas buang sampah. (Gabriel Bobby/berbagai sumber)

 

 

 

 

About author



You might also like

Destinations

The World is in Our Hand

S Seminar bertajuk The Power of Guerilla Tourism & Hospitality Networking yang diselenggarakan TTC Travel Mart di Jakarta, Sabtu (10/12/2016) (Ist) Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, tak bisa dipungkiri

Tour Package

Hotel Santika Premiere ICE BSD City Siap Sukseskan PATA Travel Mart 2016

PATA Travel Mart 2016 di ICE BSD City, Banten (Ist) Hotel Santika Premiere ICE BSD City adalah hotel bintang 4 di kawasan Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Banten. Ya,

Travel Operator

2017, Turis Tiongkok Rajin ke Indonesia

Ilustrasi turis Tiongkok ke Indonesia (Ist) Kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke Indonesia dalam tren positif dengan terus naik sepanjang tahun ini sehingga diprediksi tahun 2017 mendatang turis dari Negeri Tirai

SightSeeing

Batik Fractal Bidik Paman Sam

Batik Fractal yang mengandalkan teknologi dan sudah masuk pasar internasional rupanya saat ini tengah fokus untuk melayani permintaan pasar di Kanada. Tak tanggung-tanggung, Batik Fractal pun akan mengupayakan bisa hadir

Airlines

TTC BeerFest: Fun & Charity

TTC BeerFest!2018 (Ist) Banyak cara bagi penduduk urban untuk menikmati hidup, berkumpul dan membangun networking dengan sesamanya, bahkan melakukan kegiatan kemanusian. Adalah TTC BeerFest—social event, yang mampu menggabungkan beberapa hal

Slideshow

‘Pantai Indonesia Lebih Bagus’

Destinasi wisata bahari di Samber Gelap, Korabaru, Kalimantan Selatan (Ist) Wisata bahari yang menjadi andalan pemerintah sebagai upaya merealisasikan target Presiden Jokowi mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia