Menpar Arief Yahya ‘Disentil’ Perkembangan KEK Pariwisata Mandalika

menpar dan hadi

Menteri Pariwisata Arief Yahya (kiri) dan LA Hadi Faishal, Wakil Ketua PHRI NTB (Ist)

Raut wajah Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun sempat memerah ketika LA Hadi Faishal, Wakil Ketua PHRI Nusa Tenggara Barat (NTB) berbicara dalam nada tinggi di Seminar Wisata Dunia Halal di Hotel Lombok Raya, Selasa, 16 Maret 2016.

Bukan lantaran tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan di forum tersebut namun karena merasa ikut malu, karena KEK Pariwisata Mandalika belum kelihatan progress-nya di lapangan. 
Padahal, Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla sudah menginjakkan kaki di KEK yang sudah berusia 20 tahun itu.

Banyak menteri juga sudah sampai di kawasan yang setiap tahun dipakai untuk Festival Bau Nyale itu. “Terus terang saya juga malu kalau Mandalika belum bergerak konkret dan tangible atau kasat mata,” aku Menpar Arief Yahya.

Kata-kata Hadi memang cukup menusuk. “Kita sudah tidak perlu lagi memperdebatkan halal dan non halal tourism. Saatnya berlari. Pak Menpar dan Pak Gubernur sudah berlari 150 km per jam. Masak kita masih berdebat soal halal dan non halal?” ucap Hadi ketika dihubungi patainanews.com, Jumat (18/3/2016).

“Harusnya kita bertanya, seberapa jauh progress yang sudah dibangun di KEK Mandalika? Bagaimana dengan perpanjangan landasan dan apron Bandara International Lombok? Kapan mau dibangun? Itu Bandara Ngurah Rai, satu pesawat menghabiskan Rp50 hingga 70 juta hanya untuk putar-putar di udara menunggu jadwal landing? Sedangkan di Lombok kosong?” ucapnya.

Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Hiramsyah Sambudhy Taib menjelaskan, “Pak Menteri sudah wanti-wanti soal Mandalika harus segera ada progres di lapangan. Direksi baru PT ITDC saat ini sedang me-review masterplan sampai tiga bulan. Saya sudah meminta untuk ada realisasi cluster pertama dulu, tidak harus menunggu selesai masterplan. Action dulu, di lapangan, seperti penataan kawasan di Pantai Kuta. Lalu pembangunan entrance atau sekitar pintu masuk, dan membangun masjid raya dikompleks KEK itu”.

Hiram yang pernah dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Kawasan Pariwisata Indonesia itu punya pengalaman, quick win itu penting. Mewujudkan pembangunan fisik itu menaikkan kepercayaan masyarakat dan seluruh stakeholder.

“Juga meningkatkan confidence level bagi manajemen. Semoga dalam waktu cepat bisa segera kelihatan actionsnya,” kata lulusan arsitektur ITB 1981 itu. Menpar juga yakin akan komitmen, kementerian dan lembaga lain yang terkait dengan program percepatan 10 top destinasi pariwisata.

Mereka pasti akan segera bergerak. Seperti Kemenhub, Kemen PU PR dan KemenBUMN, yang terkait dengan bandara dan akses menuju Mandalika. “Setelah infrastrukturnya cukup, akses direct flight dari Singapore, Malaysia, Timur Tengah dan Tiongkok segera dikebut. Empat itulah sasaran market wisata halal yang potensial buat Lombok,” kata Arief Yahya.

Pria asal Banyuwangi ini juga sependapat dengan berbagai usulan untuk menggarap cluster wisata halal eksklusif. “Khusus di Pengembangan Destinasi, yang biasa menggunakan rumus 3 A, atraksi, aksesibilitas dan amenitas, kami sudah mendiskusikan dengan tim. Tinggal eksekusi saja kalau sudah setuju,” kata dia.

Tiga besar pembangunan atraksi di Lombok yang dirancang adalah Moslem Friendly Beach (Kawasan Senggigi yang pantainya milik Pemprov NTB), Kota Tua Ampenan untuk dibangun seperti konsep Bukit Bintang Kuala Lumpur.

Lalu Lighting System di Masjid Islamic Center. Mengenai akses tengah melobi penerbangan langsung dari Pasar Utama, Singapura, Malaysia, dilanjutkan dengan Timur Tengah dan Tiongkok ke Lombok Internasional Airport (LIA).

Kedua, moslem friendly signage, papan petunjuk berbahasa Arab. Lalu Tourism Information Center (TIC) Moslem Friendly di LIA. Sedangkan amenitas, kata Menpar, yang terkait dengan penyediaan akomodasi, restoran, cafe, tempat bermain, dan lainnya dibuat tiga cluster.

“High End Model contohnya Oberoi Hotel, Middle Model seperti Svarga Resort Villa dan Low End Model mirip Kuta Home Stay,” ungkap Menpar. Namun, sekali lagi Menpar Arief Yahya mengingatkan pemerintah daerah apakah sudah sadar akan potensi pariwisata?

Apakah sudah menempatkan sektor pariwisata sebagai leading sector? Apakah sudah menempatkan seorang Kadispar yang terbaik? Dan sudah mengalokasikan sumber daya dan budget pariwisata yang terbaik? 

NTB sudah berkali-kali dicanangkan, sudah disaksikan RI-1 dan RI-2, sudah berkali-kali dijelaskan oleh Menpar. Event nasional seperti HPN 2016 sudah dipusatkan di sana. Namun actions di lapangan, terlalu minim dibandingkan dengan energi dan daya dongkrak yang sudah disupport ke daerah itu. 

Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi pun beberapa kali mengangguk atas statemen itu. “Betul Pak Menteri. Kita tidak lagi perlu berdebat apakah pariwisata membawa budaya mabuk, wong sebelum ada pariwisata sudah terjadi dekadensi moral? Sudah banyak yang pada suka mabuk? Karena itu jangan menyalahkan pariwisatanya, tapi kita harus introspeksi, itu pekerjaan kita dalam mendidik anak-anak muda,” jelas Tuan Guru. 

Ada satu hal yang tidak sempat diungkapkan Gubernur NTB di forum, tetapi sempat tercetus setelah seminar yang diprakarsai Kompas dan Kemenpar itu selesai. “Coba kalau bupati dan walikota saya seperti Ridwan Kamil Bandung atau Azwar Anas Banyuwangi? Saya yakin kita sudah”. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Slideshow

Takalar, Mutiara Terpendam dari Sulsel

Bupati Takalar Burhanuddin Baharuddin (kiri) dan President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo di Hotel Sultan, Jakarta  Indonesia memang kaya akan potensi wisata bahari. Menariknya banyak mutiara terpendam yang terkesan belum

Hotel

Januari, Kunjungan Wisman ke Jatim Meningkat

Menteri Pariwisata Arief Yahya di Banyuwangi (Ist) Hasil manis ditorehkan Provinsi Jawa Timur (Jatim) terkait raihan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2018. Hal itu menyusul Bandara Juanda Surabaya sepanjang

Airlines

2018, Kementerian Pariwisata Serius Garap Wisman

Deputi Pengembangan dan Pemasaran I Kemenpar I Gde Pitana (kanan) Kementerian Pariwisata pada tahun ini menerapkan sejumlah jurus untuk menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara untuk traveling ke Indonesia.    Hal itu

Festival

Hingga 2017, Pelindo III Bangun Tiga Marina Dukung Pengembangan Pariwisata RI

Logo PT Pelindo III (Ist) Sebagai upaya mendukung upaya pemerintah merealisasikan target Presiden Jokowi mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara hingga 2019 mendatang, maka manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III menyatakan

Airlines

Pembantu Mudik? Menginap di Hotel

Hotel Sofyan (Ist) Hari Raya kemenangan Idul Fitri 1439 H segera tiba. Momen ini dimanfaatkan bagi umat Islam untuk tradisi mudik, tak terkecuali para asisten rumah tangga. Bagi warga asli

Festival

Libur Ke Bali Saja, Tidak Perlu Ke Luar Negeri

Bali diakui wisatawan mancanegara (www.ninaflynnphotography.com) Pariwisata Indonesia semakin dikenal di mancanegara. Tak hanya Raja Ampat dan Pulau Komodo yang kian populer di dunia, Pulau Dewata yang menjadi destinasi andalan negeri