Menteri Pariwisata Optimistis Pariwisata RI Kalahkan Malaysia

AY bawa jaring

Menteri Pariwisata Arief Yahya (kedua dari kanan) (Ist)

Kemenangan itu harus direncanakan! Kata-kata Sun Tzu itu sudah sering diulang Menteri Pariwisata Arief Yahya di hadapan pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Pariwisata.

Seorang Arief Yahya berkeyakinan bulat, hanya energi yang besar dari seorang pemimpin yang mampu meng-energize seluruh pasukannya.

Adapun iklim persaingan dengan musuh emosional, negeri jiran Malaysia Truly Asia, dan rival profesional Amazing Thailand semakin terasa.

Suasana ‘perang’ untuk merebut yang terbaik di sektor pariwisata sedang terjadi.

Karenanya Arief Yahya serius membawa pariwisata Indonesia lebih baik ketimbang Malaysia dengan menyiapkan strategi khusus.

“War room ini saya namakan M-17, dengan spirit mengalahkan Malaysia di tahun 2017,” tegas Arief Yahya memotivasi anak buahnya.

Dia ingatkan kata-kata Sun Tzu, kenali musuhmu, kenali dirimu, maka kamu akan memenangkan peperangan.

Kata-kata itu dimaknai secara profesional, “Kenali dunia, kenali dirimu, maka kamu akan memenangkan persaingan. Kenali pelangganmu, kenali dirimu, maka kamu akan memenangkan persaingan. Inti dari kata-kata itu adalah benchmark. Kalau kita ingin bersaing di level internasional, kita harus melihat pesaing-pesaing hebat kita, baik regional maupun global itu melakukan apa? Lalu bandingkan dengan apa yang kita lakukan,” paparnya dalam siaran pers yang diterima patainanews.com, Rabu (24/8/2016).

Lalu temukan top three, dan bottom three-nya. Mereka, tiga yang terbaik itu melakukan apa saja?

Dan mereka yang terendah rankingnya itu juga menggunakan strategi apa saja? Bandingkan hasilnya?

Ia mencoba membandingkan pariwisata negeri ini dengan negara lainnya.

Bandingkan pertumbuhannya Indonesia dengan rata-rata dunia, dan rata-rata regional ASEAN? Posisi negeri ini berada di mana?

“Kalau kita lebih rendah dari rata-rata dunia dan regional, maka sejatinya, kita sedang sekarat, menuju mati. Itulah mengapa kita harus bertumbuh dan menyalip growth para pesaing kita,” terang Marketeer of The Year 2013 versi MarkPlus itu.

Jangan malu untuk mengambil sisi-sisi positif dari rival, termasuk membuang hal-hal yang tidak signifikan.

Inovasi itu tidak harus menemukan sendiri, taktik dan strateginya lawan yang terbukti sukses juga bisa diimpor ke dalam negeri.

Apa ukuran menang-kalah dalam persaingan dengan Malaysia dan Thailand itu?

Arief Yahya menyebut tiga indikator perhitungan yang tidak terbantahkan dengan istilah 3S, Size, Sustainability, Spread.

“Dengan menggunakan ukuran itu, harus diakui, kita masih kalah jauh dengan kedua rival itu. Dengan Malaysia, size atau ukuran, kita kalah. Sustainable menang, kita bertumbuh 10,3%, Malaysia minus 15%. Spread kita kalah. Skor-1-2. Dengan Thailand kita kalah ketiga-tiganya, skor 0-3,” aku Arief Yahya.

Bagaimana cara memenangkan persaingan itu? Itulah alasan mengapa menggunakan istilah war room.

War artinya perang. Atau dalam marketing dimaknai sebagai Winning your customers!

Dalam memenangkan customers itu ada tiga skenario yang akan dijalankan Arief Yahya, yakni retaining your customers, ecquiring your customers dan Winning the future customers.

Retaining your customers, menyangkut moment of truth, bagaimana memberi kesan pertama wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia.

Ini terkait dengan pelayanan di Imigrasi. Wajah Indonesia itu ditentukan bagaimana wajah para petugas imigrasi melayani turis sebagai customers atau pelanggan yang akan menambah pundi-pundi devisa dan diterima di dalam negeri.

Ecquiring your customers itu soal strategi sales. Arief Yahya mencontohkan ada yang Get More Pay More, seperti Garuda Indonesia dan Singapura Airlines membayar mahal untuk mendapatkan fasilitas yang istimewa.

Ada yang Less for Less, seperti LCC (low cost carrier) Lion Air, AirAsia, Citilink, dan lainnya.

“Yang kita desain adalah You Get More, You Pay Less! Membayar dengan harga yang sama, tetapi mendapat fasilitas dan keunggulan yang besar,” jelas Arief Yahya.

Winning the future customers, menggunakan digital untuk memenangkan persaingan di masa depan.

“Kita harus sadar, digital itu akan semakin akrab dengan kehidupan orang, dan ke depan akan semakin kuat. Maka kita tidak mungkin, marketing tanpa menggunakan digital,” tuturnya yang selalu berprinsip Go Digital.

More Digital More Personal, More Digital More Professional, More Digital More Global. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Culture

Budaya Melengkapi Pariwisata Indonesia

Finalis Putri Pariwisata 2016 beraksi (Ist) Keanekaragaman budaya negeri ini menjadi daya tarik paling besar bagi turis asing untuk berkunjung ke Indonesia. Dan, tak bisa dipungkiri masih banyak wisatawan mancanegara

Culture

Menemukan Indonesia di ICE

President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo (kiri) berpose bersama dengan Head of Sales and Marketing ICE Siti Karmila (tengah) dan President Director Deutshe Messe Venue Operations Aage Hansen (Ist) Sebagai venue

Slideshow

Berburu Kopi Liong Bulan Ketika Traveling ke Bogor

Kopi Liong Bulan (Ist) Anton Ristiono, seorang wisatawan Nusantara mengaku menikmati perjalanan wisata kuliner ke Taman Ria Ade Irma Suryani (Taman Topi) di Bogor, Jawa Barat. Menariknya ia yang traveling

Culture

Ingin Tahu Perkembangan Pariwisata Indonesia, Ikut PATA Travel Mart 2016

PATA Travel Mart 2016 (Ist) Penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 semakin dekat. Event pariwisata internasional ke-39 pada tahun ini akan digelar di venue Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD City,

Airlines

Menjaga Kelestarian Wisata Bahari Indonesia dengan Tas Jaring

Menteri Pariwisata Arief Yahya memperkenalkan tas jaring yang biasa dipakai penyelam (Ist) Ketua Scuba Diver AustalAsia Ocean Planet Edisi Indonesia Nunung Hasana bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya memperkenalkan tas jaring

Airlines

Mudik ke Indonesia, Obama Keliling Nusantara

Barack Obama (Ist) Presiden AS ke-44 Barack Obama kembali datang ke Bali. Namun, kali ini dia datang untuk berlibur bersama keluarganya. Sama seperti liburan Raja Salman di Bali, Barack Obama juga