Pekerja Sektor Pariwisata se-ASEAN Standar

acara kemenpar

Jumpa Pers MRA TP (Ist)

Selaras dengan lahirnya ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka disepakati Mutual Recognition Arrangement on Tourism Professionals (MRA TP), sebuah standardisasi bagi para pekerja di industri pariwisata negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Aturan ini diklaim memiliki berbagai manfaat, diantaranya memfasilitasi mobilitas profesional pariwisata, pertukaran informasi tentang praktik kerja terbaik, memberikan peluang kerja sama dan pembangunan kapasitas SDM yang merata se-ASEAN.

Standardisasi kompetensi para pelaku industri wisata kemudian mengarah kepada satu pertanyaan, akankah terjadi standardisasi gaji para pekerja industri pariwisata se-ASEAN?

I Gusti Putu Laksaguna, ASEAN Tourism Professional Monitoring Comittee (ATPMC) Chairman mengatakan, saat pihaknya mulai mendesain kompetensi ini, banyak pengusaha yang sensitif akan hal tersebut.

“Akhirnya diputuskan jika disebutkan tentang gaji, pengusaha pasti akan resistance. Jika ditentukan gaji harus sekian itu agak repot. Jadi gaji tidak bisa distandardisasi, dipersilakan kepada masing-masing usahanya,” kata Putu saat acara jumpa pers MRA TP di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Menurut Putu, jika dilakukan standardisasi gaji, maka akan terbilang sulit karena masing-masing negara memiliki kemampuan yang berbeda.

“Ada kekhawatiran para pengusaha, jika karyawan memiliki standardisasi maka karyawan akan meminta peningkatan gaji. Saya katakan tidak akan lagi seperti itu. Ini tidak menjadi alat untuk menekan. Karena semua butuh sertifikasi,” katanya.

Skenario terburuk sebenarnya dapat terjadi jika pegawai industri pariwisata dari negara ASEAN lain mencaplok pekerjaan di suatu negara, contoh Indonesia karena mau dibayar lebih murah, padahal memiliki standar kompetensi yang sama.

Menjawab hal tersebut, Putu mengatakan hal ini yang harus lebih dicermati lagi. “Harus ada harmonisasi dengan peraturan dari Depnaker. Di satu sisi sepertinya membuka, namun masing-masing negara tentu memiliki aturan sendiri, yang mungkin nampak kontradiktif. Tetapi MRA TP ini adalah perintah dari kepala negara di ASEAN,” ujarnya. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Festival

‘Bagan Race’ di Festival Tanjung Lesung 2015

Festival Tanjung Lesung 2015 (Ist) Festival Tanjung Lesung 2015 yang akan digelar pada 30-31 Oktober 2015 mendatang bakal menampilkan perlombaan baru di dunia. Lomba itu adalah ‘Bagan Race’ atau balap

Tourism

Diskusi ‘Tourism Development Plan: Sosialisasi Kota Tua Jakarta Menuju UNESCO World Heritage 2017’

‘Tourism Development Plan: Sosialisasi Kota Tua Jakarta Menuju UNESCO World Heritage 2017’ (Ist) Diskusi Tourism Development Plan: Sosialisasi Kota Tua Jakarta Menuju UNESCO World Heritage 2017′ yang menandai peluncuran Gedung

World Heritage

Memberdayakan Kopi Nusantara, Menanti Jakarta Coffee Capital

Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2017-2022 Sandiaga Uno (kaos biru) (Ist) Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2017-2022 Sandiaga Uno menghadiri peluncuran gerakan Jakarta Coffee Capital di salah satu kedai

Nature

Tanjung Lesung Berjaya dalam Lomba Menulis Wisata Bahari 2016

Para pemenang lomba menulis wisata bahari Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (Ist) Pesona Tanjung Lesung di Banten yang termasuk destinasi wisata bahari favorit di Nusantara yang diminati wisatawan ternyata menarik untuk

Nature

Indonesia-Singapura Kian Erat Kerja Sama Pariwisata

Penandatanganan MoU on Tourism Indonesia-Singapore (Ist) Indonesia dan Singapura kian kokoh memantapkan kerja sama di bidang pariwisata. Penguatan itu ditandai dengan penandatanganan MoU on Tourism Indonesia-Singapore di sela-sela Leaders’ Retreat,

SightSeeing

Lembata Kaya akan Biota Laut

Peluncuran Buku Lembata Underwater (Ist) Lembata yang terletak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur mungkin bukan wilayah yang familiar bagi sebagian masyarakat Indonesia. Meski begitu, pulau dengan luas 1.266,39 km