Pelajari Strategi Membangun Kota Wisata, Teguh Santosa Berkunjung ke Melaka

bang teguh

Teguh Santosa (Ist)

Melaka merupakan salah satu kota bersejarah di kawasan Asia Tenggara. Di masa lalu, Melaka adalah titik yang menghubungkan kawasan ini dengan dunia luar, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika dan Eropa lewat jalur pelayaran.

Karena posisi strategisnya ini pula Melaka diincar bangsa-bangsa Eropa dan akhirnya jatuh ke tangan Portugis pada 1511 silam. Setahun setelah itu, Portugis menguasai jalur perdagangan rempah-rempah dari Maluku, dan untuk selanjutnya sepanjang abad ke-16, Portugis menguasai negeri-negeri di Kepulauan Nusantara.

Kini, Melaka menjadi salah satu kota di kawasan Asia Tenggara yang paling ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. Tahun 2015 lalu diperkirakan tak kurang dari 12 juta wisatawan mancanegara mengunjungi Melaka.

Angka ini hampir setengah dari wisman yang berkunjung ke Malaysia. Salah satu kunci keberhasilan Melaka membangun sektor pariwisata adalah keterlibatan publik yang cukup aktif.

Pemerintah Melaka memberikan insentif khusus kepada masyarakat Melaka yang tinggal di situs sejarah di kota itu, misalnya Kampung Morten dan Kampung Jawa yang dilalui aliran Sungai Melaka, juga kawasan Pecinan.

Demikian disampaikan bakal calon gubernur DKI Jakarta Teguh Santosa yang mengunjungi Negara Bagian Melaka, Malaysia dalam siaran pers yang diterima patainanews.com, Jumat (22/7/2016).

Kunjungan itu untuk mengetahui dan mempelajari keberhasilan sektor wisata kota yang telah ditetapkan Unesco sebagai Kota Peninggalan Dunia pada 2008 itu.

“Kunci keberhasilan revitalisasi kawasan pesisir di Melaka karena pemerintah bekerjasama dengan masyarakat sejak dari proses perencanaan yang sifatnya bottom up, tidak top down. Pemerintah memandang masyarakat sebagai subjek aktif, bukan objek yang tidak penting,” kata Teguh.

Selain berkunjung ke Melaka, Teguh juga melakukan pertemuan dengan pihak Yayasan Kepimpinan Perdana, kantor mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di Putrajaya. 

Dalam kunjungan ke Malaysia kali ini wartawan senior itu didampingi salah seorang sahabatnya, Ketua Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) Putut Prabantoro.

Masyarakat di bantaran Sungai Melaka, sebut Teguh, tidak dimusuhi pemerintah, dan pemukiman warga ditata dengan baik. Selain itu ada zonasi yang diatur sedemikan rupa sehingga tidak tumpang tindih.

Situs sejarah dipertahankan, sementara berbagai fasilitas umum dibangun dan dirawat secara maksimal. Karena masyarakat dilibatkan sejak awal, dan tidak dimusuhi, pekerjaan pemerintah menjadikan Melaka sebagai salah satu tujuan wisata dunia pun jadi lebih mudah.

“Di Kampung Morten, misalnya, masyarakat diberi insentif khusus untuk mempertahankan bentuk rumah tradisional yang mereka miliki. Perlahan rumah-rumah warga ditata sehingga menghadap ke Sungai Melaka, dan dibuatkan pedestarian publik,” katanya lagi.

Teguh menyimpulkan kekuatan sektor pariwisata Melaka adalah narasi sejarah yang menempatkan Melaka sebagai salah satu titik strategis pelayaran dunia di masa lalu, dan landskap Melaka sebagai kota pesisir yang pluralis, serta kerjasama yang solid antara pemerintah dan masyarakat.

“Bila kita bandingkan dengan Jakarta, sebenarnya Jakarta juga memiliki dua kekuatan utama, yakni narasi sejarah dan landskap pesisir yang pluralis. Tetapi, Pemprov DKI Jakarta gagal menjadi dirigen orkestra pembangunan di Jakarta, khususnya sektor pariwisata,” kata Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) itu lagi. 

Belum lagi, tambahnya, dalam reklamasi dan revitalisasi kawasan pesisir Pemprov DKI melanggar peraturan perundangan yang ada, serta cenderung berpihak kepada pengembang dan mengabaikan aspirasi masyarakat. Ini dibuktikan oleh keputusan Pemerintah Pusat melalui Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli yang membatalkan pembangunan salah satu pulau buatan.

“Keinginan membangun Jakarta sebagai pusat pariwisata dunia bukan hal baru, juga ada banyak disain untuk mengangkat citra Jakarta sebagai kota modern berbasis budaya. Tetapi menurut saya, sebaik apapun gagasan itu, kalau pemerintah tidak melibatkan, tidak mengedukasi serta tidak menyentuh hati masyarakat, semua itu akan sia-sia. Apalagi pada kenyataannya Pemprov DKI melanggar peraturan dan tampak seperti kaki tangan pengembang,” demikian Teguh. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

SightSeeing

Wisata Museum Potensi Datangkan Wisatawan Mancanegara ke RI

Museum Perjuangan Yogyakarta (Ist) Potensi wisata di destinasi Indonesia beragam. Rupanya tak hanya keindahan alam dan pesona budaya yang bisa menjadi daya tarik bagi turis asing datang ke negeri ini,

Airlines

Nihiwatu Membanggakan Pariwisata Indonesia

Menteri Pariwisata Arief Yahya memberikan sambutan pada Press Conference Nihiwatu “#1 Hotel in the World” By Travel + Leisure Magazine’s bertempat di Balairung Soesilo Soedarman, Jakarta Pusat, Senin (18/7/2016) (Ist)

Tourism

Korsel Dukung Tanjung Lesung Jadi Destinasi Wisata Dunia

Berita Foto: Foto bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama delegasi Indonesia, termasuk Presiden Direktur PT Jababeka Tbk Budianto Liman (keempat dari kiri) dengan Minister of Culture, Sports and Tourism of

All About Indonesia

President University Juara Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa 2017

Prestasi mahasiswa President University (Ist) Misi President University dalam melahirkan para intelektual muda yang berwawasan kebangsaan benar-benar berhasil. Ini terlihat dari tiga mahasiswa, yaitu Novela Permata Sari, Denisa Amelia Kawuryan dan Bryan Johanes Rengkung yang

Festival

‘Gubernur NTB Gubernur Pariwisata’

Penyerahan Pataka PHRI dari ketua bidang organisasi BPP PHRI Maulana Yusran kepada Ketua PHRI BPD NTB Lalu Abdul Hadi Faishal sesaat setelah dikukuhkan menjadi Ketua Phri NTB preiode 2016-2021 di

SightSeeing

Kondisi Kerusakan Laut Masih Bisa Diperbaiki

President/CEO PATA Indonesia Poernomo Siswoprasetijo (batik biru) hadir dalam MoU Signing Blue (Ist) Kawasan perairan Indonesia selama ini masih menjadi target utama para pelaku penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing). Kementerian Kelautan