Potensi Wisata Bahari Kei Curi Perhatian Pencinta Laut Indonesia

taufik_abdillah_wwf_indonesia_52463

Ilustrasi potensi wisata bahari di Kei (Ist)

Kepulauan Kei Kecil mulai menjadi primadona baru destinasi wisata bahari di kawasan Timur Indonesia. Tidak hanya kunjungan turis yang meningkat, awal Desember 2015 lalu, program wisata ‘My Trip My Adventure’ (MTMA) mengangkat pariwisata di Kei dalam dua episodenya.

Yang lebih spesial, program ini bekerja sama dengan kelompok pariwisata berbasis komunitas Ohoidertawun Evav Tour, binaan WWF Indonesia.

Menurut penuturan tim MTMA, kepulauan Kei di Kabupaten Maluku Tenggara dipilih sebagai lokasi liputan karena potensi sumber daya alam yang unik, indah, menarik, dan belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia.

Mereka berharap tayangan tentang Kei mampu meningkatkan jumlah kunjungan para wisatawan ke Kepulauan Kei. Tidak dapat dipungkiri, kesuksesan program pariwisata bahari di era serba digital ini tak lepas dari peranan media massa.

Program dengan rating tinggi seperti MTMA menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan destinasi wisata Kei ke pemirsa di seluruh Indonesia.

Proses liputan yang dilakukan tanggal 17-21 November 2015 difokuskan di beberapa lokasi potensial di wilayah Kei Kecil Barat dan Kei Besar Barat, seperti Pantai Ngurtavur, yang memiliki ciri khas  keberadaan Burung Pelikan yang sedang mencari suhu hangat setelah bermigrasi dari Australia; Pantai Ngur Sarnadan di Ohoi Ohoililir, yang terkenal akan kehalusan pasir putihnya; lukisan pra sejarah yang terdapat di tebing Pantai Ohoidertawun; Bukit Masbait sebagai lokasi terbaik untuk melihat matahari terbit; Ohoi Evu di Kecamatan Hoat Sorbay, yang dikenal sebagai kampung nelayan kepiting bakau dan  merupakan kelompok dampingan WWF Indonesia terkait Fisheries Improvement Project (FIP); Air Terjun Ohoi Ad, Kei Besar; dan penyelaman di perairan zona inti ‘Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Pulau Kei Kecil, Pulau-Pulau, dan Perairan Sekitarnya, di Kabupaten Maluku Tenggara’ atau dahulu dikenal dengan nama Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil.

Ketika penyelaman tim menemukan beberapa biota menarik, antara lain Hiu Karang Sirip Hitam (Carcharhinus melanopterus), Hiu Sirip Hitam (Carcharhinus limbatus), Big Grouper (Epinephelus lanceolatus), bahkan juga bertemu dengan Olive Sea Snake (Aipysurus laevis)

Tak bisa dipungkiri kepulauan ini memiliki kekayaan alam bawah laut yang sangat tinggi dan menarik untuk dieksplorasi oleh wisatawan.

Potensi yang ditawarkan oleh sektor pariwisata juga sangat besar bagi pemasukan daerah. Hanya saja bila tidak dikembangkan secara bertanggung jawab, pariwisata dapat memberikan ancaman.

Saat ini kekayaan alam Kei, terutama di bagian pulau-pulau kecil, rentan dengan ancaman perusakan akibat praktik wisata yang tidak bertanggung jawab.

Pariwisata yang hanya menyasar pemilik modal besar juga akan mengesampingkan masyarakat lokal. Jangan sampai alam rusak karena pariwisata dan masyarakat lokal tidak menikmati manfaatnya.

Untuk mengantisipasi ancaman ini, WWF-Indonesia mengembangkan program pariwisata bahari yang bertanggung jawab dan pendampingan bagi kelompok pariwisata berbasis komunitas.

Ohoidertawun Evav Tour yang mendampingi tim MTMA, adalah  kelompok dampingan yang mulai berhasil menarik turis dan media berkunjung ke Kei.

Bagi kelompok Ohoidertawun Evav Tour, proses liputan ini semakin mengangkat nama mereka di mata pemerintah daerah dan para pelaku pariwisata di Kei.

Sebagai pelaku pariwisata yang bertanggung jawab, Evav Tour menekankan pada wisatawan untuk menyimpan sampahnya selama perjalanan dan hanya membuangnya di tempat sampah.

Untuk mengurangi sampah styrofoam dan plastik dari makanan yang dibawa ke tempat wisata, Evav Tour menyediakan makan di kotak makan dan botol minum. Tidak hanya itu, Evav Tour juga mengingatkan wisatawan untuk tidak menginjak karang, menyentuh dan membawa biota laut saat sedang melakukan aktivitas di laut.

Evav Tour dengan praktik bertanggung jawabnya sebagai pemandu dalam liputan media massa, diharapkan dapat memotivasi pelaku wisata lain untuk mempraktikkan hal serupa.

Kolaboarasi media massa, pemerintah daerah, serta WWF Indonesia dengan masyarakat lokal dalam mengembangkan pariwisata bahari, sangat diperlukan sebagai bentuk sinergi antar lembaga menuju pariwisata bahari yang bertanggung jawab di Kabupaten Maluku Tenggara.

Pengarusutamaan nilai konservasi dalam kegiatan pariwisata dikembangkan dengan lebih melibatkan komunitas lokal, seperti kelompok pembudidaya rumput laut Penyu Lestari di Pulau Nai.

Dampingan WWF Indonesia ini memiliki kepedulian melindungi sarang penyu. Di kemudian hari, program adopsi sarang telur penyu yang akan ditawarkan kepada wisatawan diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri dan mampu berkontribusi terhadap upaya konservasi di Kabupaten Maluku Tenggara. (Gabriel Bobby/wwf.or.id)

About author



You might also like

Festival

Long Weekend ke Palembang Nonton Musi Jazz Palembang

Musi Jazz Palembang (Ist) Pemerintah provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) jeli melihat waktu. Memanfaatkan libur long weekend, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel kabarnya akan menampilkan Dwiki Dharmawan, Lea Simanjuntak, dan Rizky

Tour Package

Jailolo Juga Dilewati GMT 2016

Ilustrasi GMT 2016 di Indonesia (Ist) Kawasan Indonesia timur bisa dibilang beruntung lantaran banyak dilewati gerhana matahari total (GMT) 2016. Fenomena alam langka yang akan terjadi pada 9 Maret mendatang

SightSeeing

Seni Budaya Tradisional NTT Hadir di CFD Labuan Bajo Jakarta

Budaya khas Nusa Tenggara Timur (Ist) Atraksi seni budaya kembali disuguhkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) saat Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (25/11/2018). Kali ini yang ditampilkan adalah kekayaan budaya pada

World Heritage

Melihat Orang Berjalan di Atas Air di Teluk Laikang Takalar

Eksotisme di Ujung Takalar. Teluk Laikang, Keindahan Laut dan Pasir Putih (Ist) Laut biru, pasir putih, cottage, dan debur ombak rupanya menjadi satu kesatuan harmoni alam di Teluk Laikang, Takalar.

SightSeeing

Wonderful Noon 2018, Perkuat Branding Pariwisata Lewat Media Sosial

Pegiat media sosial (Ist) Matahari belum sepenuhnya tenggelam, satu per satu tamu undangan datang menuju Pelabuhan Benoa, Bali. Dengan memakai kostum ala pelaut bernuansa putih, undangan yang mayoritas adalah pegiat

Slideshow

Punya Marina, Pariwisata Banyuwangi Cemerlang

Wisatawan di Pulau Merah (Ist) Masyarakat Banyuwangi patut berbangga hati sebab tahun 2017 mendatang bakal punya marina berkelas dunia sehingga beragam potensi wisata yang dimiliki Bumi Blambangan ini akan semakin