Sepur Kluthuk Jaladara, Pesona Wisata Solo

WhatsApp Image 2017-08-02 at 10.47.19

Wisatawan berpose di depan Sepur Kluthuk Jaladara (Ist)

Destinasi wisata Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang) dikenal begitu kaya pesona wisata, budaya, dan kearifan lokal. Menariknya Joglosemar termasuk dalam 10 Bali baru yang dikembangkan dan dipromosikan pemerintah hingga ke mancanegara dalam upaya memenuhi target Presiden Jokowi mendatangkan 20 juta wisatawan asing hingga 2019 mendatang. 

Daya tarik Solo cukup banyak, salah satunya Sepur Kluthuk Jaladara yang dibuat pada 1896 silam. Menurut Ninik Irawan, Direktur PT Murni Wisata ketika dihubungi patainanews.com, Rabu (2/8/2017), Kereta Jaladara adalah satu-satunya kereta upa di Indonesia.

Kereta Jaladara dipakai untuk mempromosikan pariwisata kota Solo,” ucapnya. Lengkingan yang berasal dari cerobong asap kereta api uap ini mengundang masyarakat Solo dan wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara untuk menyaksikan kegagahannya. Meski usianya sudah lebih dari satu abad, namun masih bisa bergerak dengan gagah menembus gedung dan bangunan tinggi Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Sejak diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal saat itu pada 27 September 2009 lalu, Sepur Kluthuk Jaladara kini menjadi salah satu magnet baru di Solo. Setiap kali kereta api uap yang ditetapkan sebagai salah satu benda cagar budaya ini beroperasi pada Sabtu dan Minggu, masyarakat dan traveler berduyun-duyun berdiri di sepanjang jalan yang lintasi, mengabadikannya dengan handycam, kamera dan ponsel. Bahkan ada juga yang rela mengiringi dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sepur Kluthuk Jaladara menempuh perjalanan sekitar 5,6 km, dari stasiun Solo Purwosari menuju stasiun Solo Kota Glagah. Pulang pergi, kereta api ini menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Karena kereta api wisata ini singgah di depan pintu masuk Kampung Batik Kauman, Solo, rumah dinas Walikota Solo dan sejumlah tempat wisata lainnya.

Lokomotif uap C 1218 merupakan salah satu kereta api uap tua yang dimiliki oleh Indonesia. Kereta api buatan Belanda ini dibuat tahun 1896. Dua gerbongnya yang juga tidak tidak kalah antiknya dibuat pada 1906 silam. Gerbongnya juga dibuat di Belanda dengan bahan baku kayu jati pilihan.

Lokomotif C1218 ini dibuat di Belanda oleh pabrik lokomotif Hartmann Chemnitz tahun 1986 dan dioperasikan di tahun yang sama pula di Indonesia. Perusahaan yang mengoperasikan adalah Staatspoorwegen atau SS, perusahaan KA milik pemerintah Belanda.

Lokomotif C1218 berbahan bakar kayu jati apkiran ini bernomor SS 457 ketika  digunakan oleh SS. Lokomotif ini merupakan salah satu dari 43 seri lokomotif C12 milik SS yang tidak diserahkan kepada perintahan Jepang, sementara itu 40 lokomotif lainnya diambil oleh Jepang.

Tahun 1927 ketel uap C1218 buatan Hartmann Chemnitz digantikan oleh ketel uap buatan Hohenzollern AG Dusseldorf, jerman. Setelah berakhir masa dinasnya, C1218 diletakkan di Depo Cepu, kabupaten Blora, Jawa tengah dan dimanfaatkan sebagai lokomotif langsir rangkaian kereta serta untuk menarik rangkaian kereta penumpang atau barang pada lintasan cabang Cepu- Blora-purwodadi.

Kemudian di simpan di Museum Kereta Api Ambarawa . Di era Walikota Solo Jokowi kemudian berinisiatif untuk mengoperasikan lokomotif itu di Solo sebagai kereta api wisata. Kerja sama dengan pihak PT Kereta Api pun dilakukan.

Salah satu alasannya adalah mensinergikan dengan kota Solo sebagai satu-satunya kota di dunia yang memiliki rel kereta di tengah kota yang dapat digunakan sebagai jalur kereta api uap. Lokomotif seberat 45 ton dan gerbongnya ini di angkut dari stasiun Ambarawa dengan menggunakan trailer.

Pengangkutan dilakukan malam hari sehingga tidak menggangu transportasinya. Pada 10 September 2009 lokomotif ini tiba di Solo untuk selanjutnya diaktifkan sebagai  kereta api wisata Selanjutnya loko pun dilakukan perbaikan. Tidak kalah dengan loko, gerbong buatan tahun 1906 diperbaiki tanpa menghilangkan unsur keasliannya.

Gerbongnya ada dua, yaitu gerbong CR 16 (kapasitas 40 seat memanjang di kedua sisi interior) dan CR 44 (kapasitas 36 seat berhadap-hadapan). Sejumlah hiasan seperti wayang kulit pun menghiasi 2 gerbong bercat hijau tua yang bangku-bangkunya seluruhnya terbuat dari kayu jati. (Gabriel Bobby)

 



About author



You might also like

Cuisine

Bersama Pasangan, Bulan Madu di Tanjung Lesung

Tanjung Lesung (Ist) Menikmati bulan madu tentunya menjadi momen berharga bagi pasangan pengantin baru. Karenanya tak perlu bingung memilih destinasi wisata untuk menikmati bulan madu bersama pasangan terkasih. Jika biasanya

Heritage

Kereta Wisata Siap Layani Libur Akhir Tahun

Tampak dalam kereta wisata kelas Priority (Ist) Manajemen PT Kereta Api Pariwisata menyatakan telah siap melayani masyarakat Indonesia yang ingin melakukan perjalanan menggunakan jasa layanan kereta wisata ke sejumlah destinasi

Tourism

Kota Tua, Potret Jakarta Tempo Doeloe

Toko Merah Keberadaan Jakarta selalu menarik untuk diceritakan. Tak hanya itu, sejarah Ibukota negeri ini juga tak kalah menarik lantaran Jakarta tempo doeloe mampu memikat banyak orang, termasuk wisatawan mancanegara

Heritage

Natal 2017, Wisatawan Mancanegara Kunjungi Gereja Katolik Katedral Jakarta

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga Katedral Jakarta Perayaan Natal 25 Desember 2017 di Jakarta tampak meriah dan membuat bahagia banyak orang. Bahkan, ada sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang

Nature

Raja Salman, Emir Qatar Bukti Kualitas Layanan Ground Handling JAS

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan rombongan ke Indonesia dan mendapat layanan ground handling dari JAS (Ist) Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani telah memulai

Hotel

Mencoba Menu Lokal di d’Praya Lombok Hotel

LA Hadi Faishal (kiri mengenakan batik) bersama  Cita Citata tengah menanam pohon di d’Praya Lombok Hotel Berbuka dengan yang manis. Kalimat itu begitu akrab di negeri ini selama Ramadan, termasuk