Turis Tiongkok ke Indonesia Meningkat 45%

WhatsApp Image 2017-09-26 at 15.42.55

Press conference Rakornas III Kemenpar (Ist)

Turis asal Tiongkok semakin banyak yang tertarik datang ke Indonesia. Bahkan, pertumbuhan wisatawan dari China sejak awal tahun ini hingga Juli lalu mencapai 45 persen.

Traveler asal Negeri Tirai Bambu ini terkenal royal ketika traveling di negeri ini sebab mereka suka belanja dan kuliner. Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana dalam press conference Rakornas III Kementerian Pariwisata di Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Ia mengatakan, tidak semua anggapan negatif tentang turis asal Tiongkok itu benar. Bahkan, banyak fakta tentang turis China yang bisa dimanfaatkan untuk pariwisata Indonesia. “Dikatakan turis China itu medit, pengeluarannya itu kecil. Stop dulu. Mereka punya sifat-sifat khusus yang sudah kita pelajari dengan dalam,” paparnya.

Ia menjelaskan, karakter yang pertama adalah turis China sangat selektif memilih penerbangan yang murah. Selain itu, dalam hal penginapan, turis asal Tiongkok lebih memilih untuk tidak mengeluarkan biaya banyak. “Mereka sangat wise dalam mencari pesawat, artinya cari yang murah. Sangat wise juga saat mencari kamar, mencari kamar yang value pemandangannya tinggi. Tapi dia sangat royal ketika berbelanja, juga tak kalah saat mereka kuliner,” urainya.

Berdasatkan data Kementerian Pariwisata, pengeluaran turis China sebanyak 1.057 dollar AS per orang per kunjungan. Menariknya jumlah tersebut lebih tinggi ketimbang pengeluaran turis Singapura yang sebesar 680 dollar AS, dan pengeluaran traveler Malaysia yang sebesar US$690 per orang per kunjungan.

“Justru lebih besar total pengeluaran rata-ratanya dari tetangga-tetangga sekitar,” ucapnya. Menurutnya, ragam wisata yang kaya akan kuliner dan wisata belanja sangat layak dipromosikan ke Tiongkok. Sampai saat ini, menurutnya paling tidak ada sekitar 13 kegiatan promosi Wonderful Indonesia di China, yaitu di Shanghai, Guangzhou, dan Beijing.

“Di samping offline, khusus untuk China kita melakukan promosi online juga, di Caidu, C-trip, dan Wechat. Makanya pertumbuhannya bisa 45 persen hanya dari Januari sampai Juli 2017, jadi tahun ini saya proyeksikan lebih dari 2,2 juta. Ini yang paling luar biasa, belum ada sepanjang sejarah pertumbuhan wisman kita,” katanya. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

SightSeeing

Melihat GMT 2016 di Palembang

Ilustrasi logo Hotel Aryaduta Palembang (Ist) Hotel Aryaduta dinilai sebagai lokasi yang tepat untuk bisa mengamati gerhana matahari total (GMT) 2016 di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Hal tersebut mencuat selama

Travel Operator

ASITA Jakarta Travel Mart Menuju Indonesia Travel Mart

Peserta ASITA Jakarta Travel Mart berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (Ist) Penyelenggaraan ASITA Jakarta Travel Mart (AJTM) yang berlangsung di Jakarta pada 13 hingga 15 September 2016 dinilai sebagai

Tour Package

Budaya Betawi Meriahkan 210 Tahun KAJ

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Katedral Jakarta (Ist) Perayaan 210 tahun Gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dilakukan dengan adanya Misa Ekaristi ucapan syukur di Gereja Katolik

Culture

Raja Arab Lirik Investasi Pariwisata Mandalika Lombok

Pantai Kuta di kawasan Mandalika Lombok (Ist) Meski tujuan liburan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud dan rombongan ke Bali pada 4 hingga 9 Maret mendatang, ternyata Raja Salman

Hotel

Mahasiswa STP Bandung ‘Kuliah’ di PATA Indonesia

President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswopraestijo (batik biru) berpose bersama dengan mahasiswa STP Bandung (Ist) Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung mencoba menggali ilmu pariwisata secara langsung dengan mendatangi PATA

Travel Operator

Wisata Kuliner Sambel Sedap Oma di Semarang

Sambel Sedep Oma bisa jadi oleh-oleh khas Semarang (Ist) Semarang di Jawa Tengah tak hanya kaya dengan destinasi wisata namun juga beragam wisata kuliner. Apalagi kini Semarang masuk dalam Joglosemar