UNWTO Puji Arief Yahya

Arief Yahya di asita

Menteri Pariwisata Arief Yahya

Sekretaris Jenderal United Nation World Tourism Organization (UNWTO) Taleb Rifai memuji kepintaran Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya membawa pariwisata Indonesia melompat lebih jauh.

Profesor Architecture lulusan University of Cairo 1973, Illinois Institute of Technology (IIT) Chicago, PhD  itu berkali-kali menjadikan Indonesia sebagai contoh.

“Di CNN International, saya selalu jadikan pariwisata Indonesia sebagai contoh sukses,” ucap Taleb Rifai dalam siaran pers yang diterima patainanews.com belum lama ini.

Statemen Taleb Rifai itu disampaikan dalam pertemuan resmi dengan Arief Yahya di Booth Wonderful Indonesia di ICC Messe Berlin, tempat Internationale Tourismus Borse (ITB), 11 Maret 2016.

Di pameran pariwisata paling akbar di dunia itu, Taleb Rifai juga memuji Indonesia yang cepat, cerdas, dan cekatan menangani terorisme di Pos Polisi Thamrin, Jakarta, 13 Januari 2016 itu.

Karena itu, Taleb juga memaafkan Arief Yahya yang terpaksa membatalkan kunjungan ke FITUR 2016 di Madrid, 18-22 Januari 2016.

Taleb memahami ‘suasana batin’ Menpar Arief Yahya yang sedang berduka pada waktu itu meskipun sudah berjanji sebelumnya untuk tampil dan speech di depan forum pelaku industri pariwisata dunia, kala itu.

“Tapi kami mengakui, cara menangani musibah terorisme dari sisi pariwisata yang dilakukan Menpar sangat cerdas dan cepat. Ini contoh yang bagus, jika ada peristiwa serupa di seluruh dunia, jangan sembunyi, jangan melarikan diri, dan tidak ada penjelasan yang baik. Justru harus ada penjelasan yang masuk akal, komprehensif, dan baik,” sebut Taleb mengapresiasi Menpar Arief Yahya.

Taleb juga meminta kepada negara-negara lain, negara tetangga, agar tidak cepat-cepat mengeluarkan ‘travel advice’ sebelum mendengar dan melihat dengan benar, situasi yang sesungguhnya terjadi.

“Karena negara yang sedang kena musibah itu bisa tertimpa dua kali sebagai korban. Pertama, korban bom dan kekhawatiran akan keamanan yang membuat turis lari. Kedua, peringatan dan larang bepergian dari pemerintah ke negara yang sedang jadi korban itu,” kata Taleb Rifai.

Turis pun semakin sulit untuk berwisata di negara yang sedang didera isu teroris seperti itu. Travel advice dan apalagi berlanjut sampai travel warning menjadi bencana bagi negara destinasi wisata itu.

Karena dampaknya langsung pada asuransi yang akan mengganti segala sesuatu yang disebabkan oleh urusan wisata. Asuransi tidak akan bertanggung jawab jika negara sudah mengeluarkan ‘surat sakti’ seperti itu.

Taleb punya sindiran halus, ‘jangan diisolasi’ negara yang sedang terkena musibah akibat ulah teroris seperti itu. Karena itu akan membuat si teroris merasa menang dan di atas angin.

Jangan beri ruang gerak buat teroris. “Yang dilakukan Indonesia sangat hebat. Contoh yang bagus,” ungkap Taleb Rifai. Menpar Arief Yahya menambahkan, ketika di negara tetangga terjadi peristiwa yang luar biasa, Indonesia tidak terburu-buru mengeluarkan travel advise dan travel warning.

Karena belum tentu peristiwanya sedahsyat yang dilihat, dibaca, dan dibayangkan melalui medsos maupun reportase media mainstream.

“Tetapi kenapa ya, tetangga kami membalas sebaliknya?” tanya Arief Yahya. Talib pun menjawab, “Itulah dunia..!” Arief Yahya juga minta maaf ke UNWTO karena batal menjadi narasumber dalam sesi seminar di ITB Berlin, 9 Maret 2016.

Pada tanggal tersebut Kementerian Pariwisata sedang disibukkan sebagai tuan rumah Gerhana Matahari Total (GMT) di 12 provinsi dengan 100 event di seluruh Indonesia.

“Karena itu, kami mohon maaf. Dua kali membatalkan acara dengan UNWTO,” aku Arief. Taleb Rifai berkata jujur, presentasi Menpar Arief Yahya sangat ditunggu-tunggu, terhadap banyak hal.

Implementasi dari portopolio bisnis ke dalam level strategi fungsional menggabungkan antara teori dan praktik di sektor pariwisata.

Banyak ilmu baru yang bisa dibagi ke dunia internasional sebagai referensi dunia akan cetusan-cetusan baru pengalaman Indonesia. “Karena itu, kami mengundang Menpar Arief Yahya ke Barcelona, untuk berbicara dengan pelaku bisnis dan industri pariwisata di Spanyol,” pinta Sekjen Taleb Rifai untuk kali ketiga.

Itu poin pertama, agenda meeting yang diminta Taleb Rifai kepada Menpar Arief, dan langsung disetujui. “Oke, saya setuju, saya akan datang, dan saya akan share banyak hal baru di pariwisata. Kebetulan, Kemenpar juga punya agenda untuk bekerja sama dengan expertis heritage Spanyol, Paradores yang sudah jatuh bangun sejak 1928 menangani jaringan 94 hotel terbaik yang menggunakan konsep restorasi heritage,” jawab Arief Yahya.

Poin kedua, Taleb Rifai juga meminta Menpar Arief Yahya hadir di China, 19-21 Mei 2016. UNWTO bersama Pemerintah Tiongkok sedang membicarakan pariwisata berkelanjutan, wisata bahari dan melihat dampak pembangunan pariwisata terhadap devisa yang diterima negara.

Dia ingin melibatkan para menteri dari lima negara Asia yang masuk G-20, yakni China, India, Jepang, Korea Selatan dan Indonesia. “Saya setuju, saya akan datang, dan saya usulkan khusus ada tema pembahasan Jalur Admiral Cheng Ho yang ujungnya sampai ke Indonesia,” pinta Arief yang akan mendiskusikan bentuknya ke China National Tourism Administration (CNTA) Mr Li Jinzao.

Jika jalur darat Tiongkok itu dikemas dengan Silk Road –one belt, one road—melalui Tiongkok daratan ke arah Eropa dan Selatan, maka Jalur Cheng Ho ini bisa dibuat jalur perdagangan baru melalui laut.

Masih ada artefaknya, terutama di 10 pesisir dari Aceh, Batam, Belitung, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya dan Bali, sekitar tahun 1371-1435.

Poin ketiga, kelanjutan kesepakatan UNWTO dengan Kemenpar soal kerjasama observatory. Tiga kawasan destinasi yang akan diobservasi, dengan pendekatan Sustainable Tourism Development (STD) oleh UNWTO didampingi perguruan tinggi nasional yang melihat kaitan antara komunitas, destinasi, dan keberlanjutan.

Lokasinya, Pangandaran dengan tim ITB Bandung, Kulonprogo Jogja dengan UGM, dan Mandalika dengan Universitas Mataram. “Poin ketiga ini akan kami launching pada saat PATA Fair 2016 di Jakarta, September 2016,” paparnya.

Tiga poin tantangan itu, langsung dijawab oleh Menpar Arief Yahya. Karena itu, pertemuan 45 menit di up level booth Wonderful Indonesia itu sangat efektif.

“Senang bertemu dengan menteri yang berpandangan global,” puji Taleb Rifai. (Gabriel Bobby)

 

About author



You might also like

Indonesiaku

‘AKBP Irhamni akan Sukses di POLRI’

Ucapan selamat untuk AKBP M Irhamni (Ist) Sebagaimana pemberitaan media massa, salah satu penyidik senior KPK AKBP M Irhamni telah dikembalikan dari institusi KPK ke POLRI setelah mengabdi selama 10 tahun

Tourism

Jangan Ragu Bawa Oleh-Oleh dari Destinasi Wisata Indonesia

Ilustrasi kaos Lombok (Ist) Sudah sejak lama seolah menjadi tradisi di negeri ini untuk membawa oleh-oleh ketika pulang dari luar kota. Namun, beberapa waktu lalu, sempat ramai di jejaring media

Tourism

Wisata Halal, Daya Tarik Kunjungan Wisatawan Timur Tengah ke Indonesia

JAS pastikan tetap layani ground handling Saudi Arabian Airlines (SV) di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Ist) Pemerintah serius meningkatkan kunjungan wisatawan asal kawasan Timur Tengah (Timteng) ke Indonesia sebab turis

Heritage

PATA Travel Mart 2016, Ajang Mendulang Wisman dan Investasi ke Indonesia

PATA Travel Mart 2016 (Ist) Wakil Presiden Jusuf Kalla telah meresmikan PATA Travel Mart 2016  yang diselenggarakan di venue Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD City, Banten.  Ya, tahun ini,

SightSeeing

Wonderful Indonesia Giliran Hebohkan Perth dengan Kuliner

Menteri Pariwisata Arief Yahya (Ist) Setelah Melbourne dan Sydney, kota ketiga yang menjadi sasaran promosi Wonderful Indonesia adalah Perth, ibu kota Negara Bagian Australia Barat. Kali ini bukan mengundang Tompi

Nature

Turis Malaysia Suka Traveling ke Indonesia

Anis dan Iffa (kanan), dua turis asal Malaysia ketika traveling di Jakarta dan berpose di Monas (Ist) Wisatawan mancanegara, termasuk turis asal negeri jiran, Malaysia semakin banyak yang tertarik untuk