Wartawan Jepang Terpukau Banyuwangi

IMG-20160527-WA0013 (1)
Wartawan Jepang menyusuri destinasi wisata Banyuwangi (Ist)
Banyuwangi di Jawa Timur kembali menjadi sorotan dunia. Ada 18 media massa Jepang yang sedang mengarahkan liputannya ke kabupaten berjuluk Sunrise of Java itu.  
Belasan media asal Negeri Sakura itu hadir ke Banyuwangi setelah Kementerian Pariwisata menggelar Japan Media famtrip ke sejumlah destinasi wisata menarik.
Di Banyuwangi, 18 jurnalis media Jepang diajak melakukan perjalanan wisata selama tiga hari. Mereka diajak menjelajah blue fire Kawah Ijen, desa wisata hingga menikmati landscape pantai hingga pegunungan Banyuwangi.
Hasil perjalanan tadi, langsung dipublikasikan di Jepang. “Diantaranya ada Mainichi Weekly, Globe-Trotter Travel Guide Book Jepang dan Kumon Publishing yang kami bawa ke Banyuwangi. Mereka menjadi mata dan telinga kami untuk membantu mempromosikan pariwisata Banyuwangi di kawasan Asia, bahkan dunia,” terang Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Kementerian Pariwisata di Jepang, Naomi Takahashi dalam siaran pers yang diterima patainanews.com, Jumat (27/5/2016).
Naomi mengatakan, dipilihnya Banyuwangi sebagai lokasi famtrip lantaran destinasi wisata Banyuwangi sesuai dengan karakteristik wisatawan Jepang yang tidak menyukai medan sulit.
Cukup berkeliling satu kota, wisatawan sudah bisa menjangkau banyak destinasi wisata. “Ada banyak obyek wisata alam yang bisa dinikmati di sini. Mulai wisata pantai, desa yang memiliki kultur unik dan gunung yang terkenal dengan api birunya. Ini sangat menakjubkan. Cerita-cerita unik dan menarik yang dijumpai di Banyuwangi pasti dipromosikan di Jepang oleh para jurnalis kami,” kata Naomi.
Takehito Miyatake, fotografer dari Japan Professional Photographers Society mengakui bahwa Banyuwangi memiliki pemandangan alam yang cantik dan unik. 
Karakteristik penduduknya yang ramah dan suasana
pedesaan yang khas membuatnya sangat suka dengan Banyuwangi.
“Sepanjang mata memandang saya melihat hamparan sawah yang luas dan bertingkat-tingkat (terasering, red). Itu menjadi pemandangan yang menakjubkan,” tutur Miyatake.
Tak hanya alam Banyuwangi yang membuat dia terkesan. Kebiasaan masyarakat yang memulai aktivitas di pagi buta juga menjadi pesona tersendiri.
“Waktu bangun pagi saya sangat kaget, matahari belum terbit sudah terdengar suara-suara yang membangunkan orang untuk beribadah (adzan Subuh-red). Ini unik sekali,” ucap Miyatake.
Kebetulan para jurnalis itu menginap di salah satu resort yang terletak di kaki lereng Gunung Ijen. Fotografer lainnya, Hinata Haga menyatakan sangat antusias melihat puluhan festival yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Festival yang terangkum dalam Banyuwangi Festival, bagi Hinata, sangat unik dan menarik. “Saya penasaran sekali dengan Gandrung Sewu dan Banyuwangi Ethno Carnival. Saya ingin mengabadikan dan mengabarkan keunikan dua even itu kepada masyarakat Jepang,” tuturnya.
Bupati Anas mengaku sangat terhormat dengan dipilihnya Banyuwangi sebagai lokasi famtrip para jurnalis asal Negeri Sakura tersebut.
Kunjungan itu bagi Anas sangat berharga karena bisa mempromosikan Banyuwangi hingga ke mancanegara.
“Inilah Banyuwangi. Di sini Anda bisa melihat keramahtamahan penduduk di desa-desa. Banyuwangi salah satu miniatur Indonesia. Meski Indonesia mayoritas Muslim, namun di sini toleransi beragama sangat dijunjung tinggi. Bahkan kami telah masuk jaringan compassionate city yang diinisiatori Karen Armstrong. Kami dianggap sebagai kota yang penuh kasih, dan menjadi tempat layak ditinggali untuk semua agama, suku dan etnis apapun,” papar Anas.
Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang fokus mengembangkan pariwisata. Beragam even dibuat sepanjang tahun untuk mendongkrak pariwisata. Destinasi-destinasi wisata baru, banyak dimunculkan seiring perubahan pola pikir masyarakat.
Yang sering disebut-sebut Menteri Pariwisata Arief Yahya salah satunya Blue Fire atau api biru. Api biru ini sebenarnya hanya sebutan keren untuk Kawah Ijen yang sebenarnya sudah ada
sejak lama.
Namun, dengan Blue Fire kawah tersebut kian menarik kunjungan wisatawan asing. “Saya dulu rajin mendaki gunung, dan Ijen adalah favourit saya,” ujar Arief Yahya. 
Pada pk 01.00 hingga 03.00 WIB akan terlihat blue fire itu. Seperti kompor raksasa, menyala biru, seluas 5000 hektare, dan waktunya tidak panjang.
“Ini hanya terjadi di Ijen dan Iceland,” kata Arief Yahya. Selain itu ada Pantai Bangsri yang konon keindahan bawah lautnya tak kalah dari Raja Ampat.
Lebih menarik lagi, desa ini dikemas dengan narasi tentang masyarakat nelayan yang dulu perusak laut tapi kini menjadi pelestari dan penggerak wisata bawah laut.
Upaya ini membuahkan hasil. Pengakuan dunia untuk Banyuwangi terwujud dalam penghargaan pariwisata dunia Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa UNWTO Awards ke-12 kategori inovasi bidang kebijakan publik.
Hebatnya, promosi Banyuwangi tak dilakukan lewat pemasangan iklan di media massa yang tergolong mahal. Promosi hanya dilakukan memanfaatkan media sosial yang ada.
Berbagai gebrakan itu membuat Banyuwangi berkembang. Kunjungan wisatawan nusantara melonjak 161 persen dari 651.500 orang pada 2010 lalu menjadi 1.701.230 orang pada 2015.
Addapun wisatawan mancanegara meningkat 210 persen dari kisaran 13.200 orang pada 2010 silam menjadi 41.000 orang pada 2015. Hotel dan restoran tumbuh.
Kegiatan ekonomi kreatif seperti kerajinan, industri oleh-oleh dan batik menggeliat. Jumlah penumpang di Bandara Blimbingsari Banyuwangi pun melonjak dengan sangat fantastis, yaitu yang mencapai 1.308 persen.
Dari hanya 7.826 penumpang pada 2011, Bandara Blimbingsari menerima 110.234 penumpang pada 2015. Geliat pariwisata juga menggerakkan ekonomi warga.
Pendapatan per kapita Banyuwangi menurut Badan Pusat Statistik melonjak 62 persen dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp33,6 juta per kapita per tahun (2014). (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

Slideshow

Miss Earth Indonesia 2016 Luisa Andrea Soemitha

Malam Final Miss Earth Indonesia 2016 (Ist) Keberadaan Miss Earth Indonesia 2016 bisa memberikan dampak positif terhadap pelestarian lingkungan hidup di Tanah Air sehingga bisa ikut mendukung kunjungan wisatawan asing

Nature

Pariwisata Soppeng Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Kalong di langit biru Soppeng bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan berkunjung ke Soppeng (Ist) Pemerintah daerah Soppeng diketahui tengah gencar mengembangkan dan mempromosikan beragam potensi pariwisata yang ada

Culture

Grand Tjokro Hotels Tambah Hotel

Suasana peresmian Hotel Grand Tjokro Bandung (Ist) Hotel Grand Tjokro Bandung yang tergabung dalam Grand Tjokro Hotels Indonesia memperkenalkan diri kepada publik sebagai hotel bintang empat yang baru berdiri di

Hotel

Pariwisata Maumere Mulai Diminati Wisatawan

Peluncuran Festival Teluk Maumere 2016 di Kementerian Pariwisata (Ist) Destinasi wisata Maumere di Flores, Nusa Tenggara Timur mungkin masih terdengar asing bagi wisatawan. Tak heran lantaran destinasi wisata yang terletak

Travel Operator

Mengenal Lebih Dekat Gifta Oktavia Rappe

Gifta Oktavia Rappe (Ist) Keberhasilan Hotel Neo Samadikun Cirebon menjadi hotel nomor satu dari 37 hotel yang ada dan tersebar di wilayah Cirebon, Jawa Barat selama tiga bulan versi TripAdvisor

Festival

Jepang Suka Batik Indonesia

Canting batik (Ist) Beberapa orang Jepang yang mengikuti workshop ‘Experience The Wonderful of Indonesia Through Batik Workshop’ di ASEAN-Japan Centre, Tokyo mengaku suka dengan batik Indonesia. Salah satu peserta workshop