Wisata Ziarah untuk Kenyamanan Spiritual Wisatawan

ay

Menteri Pariwisata Arief Yahya (Ist)

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyatakan bertekad sekaligus meminta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan dan memperbaiki tata kelola destinasi wisata ziarah di Tanah Air.

Menteri Arief Yahya ketika menyampaikan pidato kunci dalam acara Workshop Nasional Tata Kelola Destinasi Wisata Ziarah kerja sama LKBN Antara dengan Kementerian Pariwisata di Auditorium Adhiyana Wisma Antara Jakarta menyebutkan akan fokus pada tiga hal untuk membangun dan memperbaiki tata kelola destinasi wisata ziarah.

“Saya akan fokus pada pemasaran, destinasi, dan SDM,” kata Menteri Arief Yahya dalam siaran pers yang diterima patainanews.com, Rabu (18/11/2015). Menurutnya, diperlukan pengembangan destinasi wisata ziarah secara lebih serius, termasuk pengelolaan destinasi, pengemasan produk wisata, serta promosi dan pemasaran pada segmen wisata minat khusus tersebut.

Khusus untuk tata kelola destinasi, Menteri Arief fokus pada kemasan atraksi dan daya tarik wisata ziarah. “Saya minta koreografer dari nasional, pakaian juga diperhatikan. Promosi nanti kita akan bantu di semua tv nasional. Saya juga akan fokus di sanitasi, wc bersih,” katanya.

Ia mengatakan, mulai tahun depan pihaknya akan mengalokasikan Rp1 miliar per satu lokasi destinasi wisata ziarah untuk biaya pengelolaan destinasi khususnya sanitasi bersih.

Sementara terkait sumber daya manusia (SDM), pihaknya akan menyiapkan 100 orang perlokasi untuk memberikan bimbingan teknis soal hospitality di sebuah destinasi wisata ziarah.

“Saya mengajak lestarikanlah situs itu maka situs itu akan menyejahterakan kamu. Ke depan saya berharap wisata ziarah akan menyejahterakan masyarakat di sekitar lokasi wisata tersebut,” katanya.

Menurut Menpar, Indonesia mempunyai potensi pariwisata berbasis religi yang sangat lengkap dan diakui dunia.

Ia mencontohkan, adanya Situs Walisongo berpotensi sebagai jalur rute ziarah (pilgrimage route) terbesar dan terpanjang melebihi Camino de Santiago yang saat ini menjadi kebanggaan Eropa.

Selain itu, komposisi populasi berdasarkan pemeluk agama selain membentuk segmen wisatawan berbasis religi, juga akan membentuk karakteristik destinasi wisata ziarah (pilgrimage tourism) berbasis kewilayahan.

Arief Yahya mengatakan, daya tarik wisata ziarah yang potensial untuk dikembangkan secara serius adalah Situs Walisongo yang berada di delapan kabupaten/kota pada provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Selain sebagai warisan budaya berbasis Islam, situs-situs tersebut juga merepresentasikan keberagaman budaya dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Selain berziarah ke makam wali-wali, daya tarik yang lain adalah perayaan haul atau peringatan keagamaan untuk mengenang jasa orang-orang yang dianggap penting dalam konteks agama dan bangsa.

Perayaan haul Sunan Ampel di Surabaya sebagai contoh kasus mampu menarik pengunjung hingga 10 ribu orang per harinya. Data yang diolah dari berbagai sumber memunculkan gambaran umum bahwa jumlah peziarah di sembilan makam Walisongo pada 2014 lalu mencapai 12,2 juta orang dan dengan pengeluaran wisatawan hingga mencapai Rp300 ribu per kunjungan atau total pengeluaran dalam setahun sebesar Rp3,6 triliun.

Diperkirakan pada 2014 ada 3.000 orang wisatawan mancanegara yang berkunjung dengan pengeluaran total sekitar 450 ribu dolar AS atau 150 dolar AS per harinya.

Adapun Kementerian Pariwisata memproyeksikan kunjungan wisatawan di Situs Walisongo pada 2019 mampu mencapai 18 juta orang wisatawan nusantara atau sekitar 15 persen dari target wisatawan nusantara pada 2019 dengan pengeluaran wisatawan per kunjungan rata-rata Rp400 ribu atau senilai Rp7,2 triliun dalam setahunnya.

Strategi promosi dan pemasaran pariwisata mancanegara yang tepat diharapkan menjadikan Situs Walisongo sebagai pilihan destinasi wisata minat khusus berbasis religi yang mampu menarik 10.000 wisatawan mancanegara per tahunnya dengan pengeluaran  total senilai 1,5 juta dolar AS atau rata-rata 150 dolar As per harinya.

Pada kesempatan workshop ini, hadir Sultan Kasepuhan XIV Cirebon PRA Arief Natadiningrat, Wakil Ketua Perhimpunan Pemangku Makan Aulia se-Jawa Ahmad Mundzir, Anggota DPR RI Ferdiansyah, dan Kepala Bidang Museum Sejarah dan Budaya Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur Endang Prasanti. (Gabriel Bobby)

About author



You might also like

SightSeeing

Bos Twitter Penggemar Batik Indonesia

Adam Bain (Twitter @adambain) Chief Operating Officer (COO) baru untuk Twitter, Adam Bain menjadi bukti batik asli Nusantara sudah menembus pasar dunia. Ia mengaku sebagai penggemar wastra tradisional, batik dari

Slideshow

Dukung Batik Fractal di Brasil

Nancy Margried (Ist) Wastra tradisional warisan negeri ini, khususnya batik semakin diminati masyarakat dunia. Ya, kesadaran mengenakan batik semakin menguat sejak 2009 silam kain khas Indonesia ini telah secara resmi

Heritage

Aerofood ACS Buka Fasilitas Dapur Baru di Cilegon

Anak perusahaan maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia, Aerofood ACS buka fasilitas dapur baru di Cilegon (Ist) Aerofood ACS yang bergerak di bidang Inflight Catering merupakan salah satu divisi

Slideshow

Pariwisata Bergerak, Ekonomi Nasional Tumbuh

Negeri ini sudah lama dikenal memiliki keanekaragaman hayati dan non hayati terbesar di dunia. Potensi tersebut menjadi alasan mengapa Indonesia diminati wisatawan asing. Para pelancong dari berbagai negara kagum dengan

Travel Operator

Turis Belanda Suka ke Air Terjun Batu Betiang

Rombongan wartawan dari Jakarta yang meliput International Musi Triboatton 2016 berhasil mencapai Air Terjun Batu Betiang di Empat Lawang (Ist) Sumatera Selatan (Sumsel) rupanya tak bisa dipungkiri kaya akan pesona

Festival

Pelindo III Tunggu Izin Pemkot Denpasar Bangun Marina di Pelabuhan Benoa

Presiden Jokowi (kemeja putih) ketika mengunjungi booth Batik Fractal di Bandung (Ist) Manajemen PT Pelindo III mengaku saat ini tengah menanti izin dari pemerintah kota (Pemkot) Denpasar, Bali untuk membuat